Upaya Mengubah Sebuah Tradisi Mudik Tahunan

Oleh: Prof. Dr. Yusti Probowati, Psikolog

(Ketua III Pengurus Pusat HIMPSI)

Salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 adalah physical distancing, yang awalnya disebut social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Upaya tersebut harus dilakukan karena penyebaran virus ini bukan melalui hewan seperti demam berdarah oleh nyamuk, melainkan melalui manusia. Mengupayakan physical distancing di Indonesia menjadi persoalan yang semakin kompleks ketika bulan ramadhan dan Idul Fitri, karena pada bulan ini, masyarakat muslim biasa menjalankan ibadah tarawih berjamaah dan tradisi mudik tahunan. Pemerintah telah tegas menyatakan kepada masyarakat untuk melakukan ibadah di rumah, termasuk ibadah tarawih, dan tegas melarang mudik.

Mudik dari tahun ketahun sudah menjadi tradisi yang kemudian difasilitasi oleh negara. Fasilitasi berupa penambahan jumlah alat trasportasi, cuti bersama, serta pemberian Tunjangan Hari Raya. Dalam pendekatan behavioristik, fasilitasi tersebut adalah penguat perilaku (positive reinforcement) yang menguatkan budaya mudik. Positive reinforcement tambahan diperoleh dari masyarakat kampung, berupa pemenuhan kebutuhan sosial dan harga diri dengan silahtuhrahmi dan bermaafan dengan kerabat serta keluarga, memakai baju baru, berpenampilan baru, menikmati makanan khas lebaran, dan sebagainya. Bertahun-tahun berperilaku mudik yang menyenangkan dan telah menjadi tardisi, tiba-tiba tahun ini dilarang untuk mudik.

Bagaimana upaya mengubah perilaku mudik menjadi tidak mudik secara efektif? 

Pemerintah melakukan pencegahan masyarakat yang akan mudik dengan menutup Jalan-jalan dititik tertentu, membatasi ketersediaan transportasi, dikenai denda bagi yang pulang, wajib dikarantina, dan sebagainya. Biasanya mudik diberi reinforcement, saat ini sebaliknya mudik mendapatkan hal yang tidak menyenangkan (punishment). 

Skinner, salah satu tokoh Psikologi, mengatakan bahwa punishment tidak efektif dalam membentuk perilaku. Perilaku yang dibentuk oleh punishment diikuti dengan perasaan tidak suka, terpaksa. Akibatnya masih ada masyarakat yang mencari berbagai cara, seperti memarkir mobil di Tol lalu berjalan ke jalan raya dan sebagainya, agar tetap mudik. Cara lain yang lebih baik adalah dengan memberikan positive reinforcement kepada yang tidak mudik, sebagaimana yang sudah diwacanakan yaitu  pemberian bantuan sosial kepada masyarakat yang tidak mudik, tetap tinggal. Selain pendekatan behavioristic tersebut, adakah upaya lain membentuk perilaku tidak mudik yang efektif dan menimbulkan perasaan menyenangkan?

Fisbein dan Azjen mengajukan planned behavior theory, menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh niat. Niat ditentukan oleh tiga aspek, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kemudahan atau kesulitan melakukan perilaku tersebut. 

Bagaimana membentuk perilaku tidak mudik berdasarkan planned behavior theory?

Pertama, perlu membentuk sikap positif terhadap tidak mudik. Caranya dengan membentuk pengetahuan perlunya tidak mudik, antara lain tidak mudik mengurangi penyebaran covid pada keluarganya yang sudah tua, memperkecil kemungkinan terkena covid, mudik dilakukan setelah pandemi berlalu. Rasanya sudah dilakukan, namun yang lebih penting adalah siapa yang paling tepat mengubah pengetahuan?  

Kelompok masyarakat kita yang beragam, dibutuhkan penyampai pesan yang tepat sesuai dengan sasaran kelompok masyarakat. Pada generasi milineal yang dapat menyampaikan adalah tokoh idola atau artis  dengan banyak follower. Masyarakat kita yang patriaki  pada pemuka agama maka sebaiknya yang menyampaikan juga pemuka agama – para tokoh agama ini diminta muncul di media menyampaikan himbauan untuk tidak mudik serta memberi model dengan tidak mudik. Himbauan dari penyampai pesan ini penting dan harus berulang kali melalui televisi, radio, media sosial. 

Mungkinkah diberikan reinforcement bagi yang tidak mudik? THR diberikan pada yang tidak mudik?.

Tokoh-tokoh memberikan ucapan terima kasih bagi yang tidak mudik, karena itu mengurangi penyebaran covid.  Upaya pesan positif seperti ini menjadi penting untuk mengimbangi berita negatif yang memaparkan berita yang membuat orang takut dan cemas. Jumlah yang bertambah terkena covid, jumlah yang meninggal, jalan-jalan ditutup, denda jika mudik. Berita berita itu membuat masyarakat merasa makin panik dan cemas. Kepanikan dan kecemasan membuat orang tidak dapat berpikir jernih.

Yang kedua membentuk norma subyektif. Setiap orang memiliki acuan norma yang digunakan untuk dasar melakukan perilaku. Bisa jadi kelompok masyarakatnya, keluarganya, teman-temannya. Jika keluarganya mengatakan tidak apa apa tidak mudik yang penting selamat. Tentu individu akan menjadi kuat bertahan tidak mudik.

Pemerintah perlu mendekati kelompok-kelompok ini dan mengkomunikasikan untuk tidak mudik. Para ulama dihimbau menyampaikan dalam acara keagamaan. Pimpinan organisasi sosial maupun perusahaan, dosen, kepala suku, tokoh-tokoh informal, kelompok-kelompok yang dianggap berpengaruh dapat dihimbau pemerintah untuk menyampaikan pesan untuk tidak mudik. Manusia adalah makhluk sosial yang dekat dengan kelompoknya. 

Yang ketiga kemudahan atau kesulitan tidak mudik. Pemerintah melakukan dengan mempersulit mudik antara lain  transportasi dibatasi yang tentu berdampak tingginya biaya transportasi, mencegat di jalan-jalan tertentu. Sebaiknya juga perlu memudahkan perilaku tidak mudik. Pemberian dana bantuan sosial diberikan bagi yang tidak mudik dengan cara yang mudah diperoleh. Upaya tetap bahagia walau tidak mudik dengan berbagai acara menarik secara virtual.  Ceramah keagamaan idul fitri, acara musik virtual dan berbagai macam acara yang menyenangkan.

Fisbein Azjen mengatakan bahwa tiga aspek ini harus dilakukan secara bersamaan agar efektif. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya, hanya saja upaya itu perlu terintegrasi dan tersistem. Selain itu diperlukan kebijakan dan upaya-upaya strategis yang berbasis pada upaya merubah sikap dalam waktu singkat dan memberikan efek perasaan menyenangkan untuk tidak mudik. Himbauan disampaikan oleh penyampai pesan yang tepat dengan memperhatikan struktur masyarakat. Karena manusia selalu akan melakukan dengan ikhlas jika menyenangkan, dan didukung oleh orang-orang yang penting bagi dia. 

Ayo bantu pemerintah kampanyekan untuk tetap tinggal di kota, tidak mudik, minimal pada orang-orang di sekitar kita. Jika semua orang melakukan semoga tahun ini mudik tidak dilakukan saat ramadhan dan idul fitri, 

Mudik tetap dapat dilakukan setelah pandemi COVID-19 ini berlalu. 

Tetap di kota, tetap aman, jaga jarak, cuci tangan, tetap sehat, saling dukung.