Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 11

Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1. https://bit.ly/himpsieducovid
2. https://bit.ly/bantuanpsikologi
3. https://publikasi.himpsi.or.id
4. https://bit.ly/relaksasipsikologis
5. https://bit.ly/himpsipeduli
6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa


Memaafkan Membuat Sehat Jiwa dan Raga

Oleh: Dr. Seger Handoyo, Psikolog
Ketua Umum HIMPSI Pusat

Lebaran yang kita rayakan tahun ini terasa berbeda. Banyak dari kita yang harus tetap tinggal di rumah masing-masing, tidak dapat mudik untuk berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman atau rumah orang tua. Kita harus tetap menjaga jarak, sehingga silaturahmi tidak dapat dilakukan dengan berkunjung ke rumah saudara, teman, atau atasan. Sholat idul fitri pun berbeda dengan biasanya yang dilakukan di masjid atau lapangan, kali ini sholat dilakukan di rumah masing-masing.

Apapun perbedaan yang kita alami, kita rasakan, dan kita lakukan saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya, namun satu yang tetap sama, yaitu kita saling memberi maaf. Permohonan maaf dan saling memberi maaf disampaikan dengan berkirim pesan atau poster melalui berbagai media sosial, serta juga melalui telepon dan panggilan dengan video.

Bila di hari biasa kita terkadang sulit meminta maaf, terlebih memaafkan, di hari raya ini kita melepaskan diri kita untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Kata “maaf” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai pengertian pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan. Oleh karena itu “meminta maaf” berarti meminta pembebasan dari hukuman atas kesalahan yang pernah dibuat, dan “memaafkan” adalah memberi ampun atau membebaskan dari hukuman atas kesalahan.

Pihak yang salah umumnya lebih mudah minta maaf, terlebih kalo sudah terbukti dan jika permintaan maaf itu akan meringankan atau membebaskannya dari hukuman. Namun orang yang disakiti biasanya lebih sulit untuk memaafkan. Oleh karena itu, kajian Psikologi lebih fokus pada memaafkan. Bagaimana Psikologi menjelaskan tentang memaafkan dan apa dampak memaafkan bagi kesehatan?

Kajian Psikologi menyatakan bahwa memaafkan tidak hanya sekedar ‘membiarkan apa yang terjadi ya sudah biarlah berlalu dan mari berjalan ke depan’.

Memaafkan merupakan perilaku yang menunjukkan standar moral yang tinggi, yang selain memberikan pengampunan, namun juga melibatkan empati, peduli, dan pengertian kepada orang yang menyakiti yang diberikan oleh orang yang memaafkan.

Memaafkan dengan melibatkan empati, peduli, dan pengertian itu oleh Bob Enright, seorang psikolog di Amerika yang juga sudah lama mempelajari tentang memaafkan, disebut dengan tulus memaafkan (true forgiveness). Betul-betul bukan perkara mudah untuk dapat tulus memaafkan kepada orang yang pernah menyakiti kita. Mengampuni saja sudah demikian sulit, ini masih harus empati, peduli dan pengertian terhadap orang yang sudah membuat terluka perasaan kita.

Everett Worthington, guru besar Psikologi di Amerika Serikat, mengatakan bahwa dia dulu membutuhkan waktu 10 tahun untuk memaafkan dosennya yang memberinya nilai B.  Mengapa orang umumnya sulit untuk memaafkan? Terdapat setidaknya 3 (tiga) hal mengapa memaafkan merupakan hal yang sulit dilakukan.

Pertama, secara normal kondisi yang langsung muncul pada orang yang disakiti adalah perasaan bahwa dia tidak akan memberi ampun. Biasanya orang yang disakiti akan langsung berfikiran dan lalu menyatakan bahwa dia tidak akan pernah mengampuni orang yang menyakitinya. Terlebih bila tindakan pelaku sampai membuat menderita dan hancur perasaannya. Umumnya dalam kondisi demikian, orang yang disakiti akan menunjukkan perasaan bermusuhan, membenci, marah, serta sulit memberikan maaf.

Kita harus menyadari bahwa hidup tanpa pernah memaafkan akan mengakibatkan derita jiwa yang berkepanjangan. Oleh karena itu, perasaan awal yang tidak mau memaafkan harus dikelola, sehingga sesulit apapun harus diusahakan untuk memaafkan.

Kedua, memaafkan dianggap sebagai bentuk kelemahan pada diri orang yang memaafkan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa terdapat orang memaafkan yang justru berada dalam posisi sedang berkuasa dan dapat membalas kepada orang yang pernah menyakitinya. Orang itu adalah Nelson Rolihlahla Mandela, Presiden Afrika Selatan tahun 1994 – 1999. Dia memaafkan para sipir yang dulu menyiksanya habis-habisan waktu di penjara, dan menyatakan bahwa “memaafkan memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu, namun akan melapangkan jalan di masa depan.”

Mahatma Gandhi mengatakan bahwa "mereka yang lemah tidak akan pernah mampu memaafkan. Hanya mereka yang tangguh yang dapat melakukannya."

Jadi memaafkan justru menunjukkan kekuatan dan ketangguhan diri kita.

Ketiga, faktor yang membuat orang sulit memaafkan adalah perasaan tidak adil jika orang yang telah menyakiti dan berbuat salah diampuni. “Enak banget, sudah menyakitiku minta dimaafkan, ini tidak adil,” adalah ungkapan yang biasa kita dengar dari orang yang disakiti. “Dia harus juga merasakan penderitaan yang saya rasakan,” biasanya demikian kalimat lanjutannya. Orang yang disakiti umumnya berpikir bahwa memaafkan berarti mengabaikan kesalahan yang pernah dilakukan orang yang menyakitinya. Intinya mereka menuntut keadilan.

Para ahli Psikologi menyatakan bahwa memaafkan harus dibedakan dengan keadilan. Memaafkan tidak memerlukan rekonsiliasi (proses memulihkan suatu keadaan agar menjadi seperti keadaan semula) antara yang menyakiti dengan yang disakiti.

Kirsten Weir menyatakan bahwa seorang korban pelecehan tidak boleh berdamai dengan pelaku yang tetap berpotensi berbahaya. Namun korban dapat memaafkan seraya tetap memberikan empati, peduli, dan pengertiannya dengan memahami mengapa pelaku berperilaku demikian. Mungkin pelaku dulu adalah korban pelecehan atau pada masa anak-anaknya mengalami pengasuhan yang tidak menyenangkan, atau lainnya.

Persoalan keadilan bahwa pelaku harus menerima hukuman akibat perbuatannya adalah persoalan yang berbeda. Memaafkan atau tidak memaafkan tidak mempengaruhi keadilan yang harus ditegakkan.

Manusia adalah tempat salah dan dosa. Oleh karena itu ajaran agama apapun mengajarkan kita untuk menemukan pengampunan ilahi, dan juga mengajarkan agar kita memberikan maaf terhadap sesama manusia.  

Memaafkan atau tidak memaafkan sesama manusia sepenuhnya berada pada kendali kita sendiri.

Pada hari yang fitri ini, kita diajarkan untuk membuka pintu maaf lebar-lebar, dan kita saling bermaaf-maafan. Hal ini dapat membuat diri kita lebih mudah memaafkan. Beberapa orang bagaimanapun tetap gagal untuk memberi maaf.

Beberapa diantara yang gagal memberi maaf, ada yang sampai mengalami masalah kejiwaan atau bahkan gangguan jiwa. Bila sudah demikian, mereka membutuhkan bantuan Psikolog untuk mendapatkan psikoterapi.

Berusaha keras untuk tulus memaafkan adalah hal berharga untuk dilakukan, karena memaafkan memberikan keuntungan buat diri kita sendiri.

Berbagai penelitian Psikologi telah menunjukkan bahwa memaafkan terkait dengan kesehatan, seperti berkurangnya kecemasan, depresi dan gangguan kejiwaan berat, serta dengan lebih jarang mengalami gangguan kesehatan dan tingkat kematian lebih rendah. Hal tersebut dapat terjadi karena dengan memaafkan, orang melepaskan tekanan psikologis yang disebabkan masalah interpersonal yang membebaninya.

Rasakan perasaan terlepas dari beban berat ketika kita tulus memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, dan biarkan beban itu lepas untuk memberikan kesehatan pada diri kita.

Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Tetap di kota, jangan mudik, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu.