Perubahan Perilaku sebagai Respon terhadap Wabah COVID-19

Oleh: Dr. Henndy Ginting, M.Si., Psikolog 
Ketua Kompartemen Pengembangan Asosiasi/Ikatan PP HIMPSI

Jumat, 29 Mei 2020 adalah hari yang cukup bersejarah bagi kalangan psikologi di Indonesia dengan diresmikannya logo ulang tahun Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ke-61 yang berbentuk kupu-kupu dengan slogan Perubahan Perilaku untuk Kenormalan Baru.

Slogan tersebut diharapkan dapat menjadi semangat dan penggerak bagi setiap perangkat HIMPSI juga seluruh komponen bangsa dalam melawan penyebaran dan menghadapi dampak wabah COVID-19.

Perubahan perilaku atau behavioral changes merupakan bisnis utama psikologi, yaitu dengan cara memahami perilaku melalui asesmen dan mengubah atau memodifikasinya melalui intervensi. Tentunya dalam melakukan asesmen dan intervensi, berdasarkan konsep teoretis sebagai dasar berpikir dan bertindak.

Kenormalan Baru

Istilah New Normal mungkin saja sudah dari dulu digunakan untuk menjelaskan fenomena perubahan di dunia. LaBarre tahun 2003 mengulas pendapat Roger McNamee, bahwa New Normal selalu akan terjadi di sepanjang kehidupan manusia. Oleh karenanya manusia harus secara sabar belajar dan terus beradaptasi untuk mengembangkan respon yang tepat dalam menghadapi tuntutan perubahan yang terjadi.

McNamee menambahkan, pengertian “normal” dari new normal berkaitan dengan skala waktu, dimana manusia akan berupaya mengembangkan perilaku yang sesuai untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dalam jangka panjang.

Sedangkan pengertian “new” dari new normal erat kaitannya dengan perkembangan teknologi. Hal ini misalnya terlihat dari buku yang ditulis Peter Hinssen, The New Normal, yang menggambarkan dampak teknologi digital terhadap perubahan proses dan perilaku bisnis.

Rich Miller dan Matthew Benjamin juga menyinggung tentang new normal untuk menjelaskan dampak krisis ekonomi dunia 2007-2008 dan kemudian menjadi populer untuk menjelaskan dampak resesi global dan wabah COVID-19. Di dalam new normal hal-hal yang terkesan tidak normal atau belum menjadi kebiasaan menjadi kenormalan baru akibat situasi-situasi tersebut.

Terlepas dari makna dan asal usul istilah new normal, atau kenormalan baru, merupakan keniscayaan bahwa kita sedang mempraktekkan perilaku yang tidak biasa kita lakukan sebelum era COVID-19.

Perilaku yang kita praktekkan tersebut tidak hanya berupa respon jangka pendek terhadap wabah COVID-19 tetapi lebih luas lagi merupakan respon adaptif yang berjangka panjang.

Apabila mengacu pada konsep new normalnya McNamee, Miller dan Matthew Benjamin, dan Hinssen, konsep new normal yang dirancang pemerintah lebih banyak mencakup perubahan perilaku jangka pendek sebagai respon kedaruratan terhadap wabah COVID-19. Perilaku tersebut berkaitan dengan menjaga jarak fisik, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga daya tahan tubuh.

Apakah semua perilaku tersebut menjadi sasaran perubahan perilaku dalam rangka kenormalan baru? Tentu saja iya dan penting, tetapi hanya sebagian kecil, berjangka pendek, dan mungkin bertahan sambil menunggu terbentuknya imunitas dan ditemukannya obat atau vaksin penangkal COVID-19.

Menurut Hongyue dan Rajib, dampak pandemik terhadap perekonomian, sosial, keamanan, serta politik akan mempengaruhi kondisi psikologis dan perubahan perilaku yang sifatnya lebih luas dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Perubahan perilaku tersebut mencakup perilaku hidup sehat, perilaku menggunakan teknologi, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial keagamaan.

Perubahan Perilaku Hidup Sehat dan Terkait Penggunaan Teknologi (Digital)

Wabah COVID-19 membuat masyarakat lebih sadar tentang rentannya manusia terhadap penyakit.

Oleh karenanya perilaku hidup sehat akan menjadi berubah lebih baik, dengan mengkonsumsi makanan sehat secara seimbang, berolah raga dan jam tidur yang teratur, lebih rutin memeriksakan kondisi kesehatan, mencari asuransi kesehatan yang terpercaya, menjaga kebersihan, dan menggunakan alat atau mengkonsumsi suplemen untuk terhindar dari penyakit. Perilaku hidup sehat tidak terbatas pada kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental.

Adapun kelompok masyarakat yang belum sadar tentang pentingnya perilaku hidup sehat secara fisik dan mental, perlu terus didorong dengan kampanye yang misalnya mengkombinasikan gain-loss framed messages, konsep dari Tversky & Kahneman. Prinsipnya, perubahan perilaku dapat terjadi apabila ada keseimbangan informasi yang diberikan terkait keuntungan kalau menjalankan perilaku hidup sehat dan kerugian kalau tidak menjalankannya.

Selain perilaku hidup sehat, perilaku masyarakat juga berubah di era COVID-19 dalam penggunaan teknologi, terutama teknologi digital. Teknologi digital untuk komunikasi online, teknologi robot, dan peralatan teknologi berbasis tanpa sentuhan (non-contact) menjadi sama pentingnya dengan listik, air, dan bahkan oksigen.

Penggunaan teknologi yang tadinya lebih banyak sebagai pendukung kerja sekunder atau malah rekreasi, berubah menjadi fasilitas kerja utama.

Dalam sektor pendidikan misalnya, pengajar dan peserta didik akan lebih banyak menggunakan mesin pencari dan Massive Open Online Courses (MOOC) seperti Udemy, Coursera, Ruang Guru. Pengajar dan peserta didik juga akan terbiasa melakukan interaksi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan fasilitas seperti Google Meet, Microsoft Teams, Cisco Webex, Zoom, google classroom, WAG, dan email.

Setelah wabah COVID-19 berakhir, blended learning atau kombinasi antara pembelajaran tatap muka dan online akan berkembang lebih pesat dari kondisi sebelumnya, yang mungkin membuat biaya pendidikan menjadi lebih terjangkau sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.

Pemberitaan tentang COVID-19 begitu masif baik di media mainstream maupun di media sosial.

Informasi yang belum tentu kebenarannya tersebar sedemikian banyaknya karena orang-orang cenderung menyebarkan informasi tanpa mempertimbangkan akurasinya. Menurut Pennycook dan kawan-kawan, hal ini terutama terjadi pada orang-orang yang kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kurang berpendidikan.

Eksperimen Pennycook dan kawan-kawan menunjukkan penyebaran informasi yang bias tersebut dapat diatasi hanya dengan mengingatkan (nudging) orang untuk mempertimbangkan dahulu keakuratan informasi yang akan disebar. Masyarakat dilatih menjadi kritis dengan terus mengingatkan mereka untuk senantiasa mempertimbangkan keakuratan informasi.

Sumber informasi yang tidak jelas, klaim yang berlebihan dan tidak logis, menyalahkan pihak tertentu, adanya ajakan untuk menyebarkan, dan kata-kata yang tidak konsisten, menurut Sellors merupakan indikasi-indikasi informasi yang tidak akurat.

Perilaku Konsumen, Perilaku Kerja, dan Perilaku Sosial

Menurut Kotler, wabah COVID-19 akan membuat masyarakat mengadopsi perilaku anti konsumerisme.

Mereka akan memilih hidup lebih sederhana (Life Simplifiers), dengan hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

Masyarakat juga akan mulai mendukung gerakan degrowth, yang memandang konsumsi penduduk dalam berbagai sektor sudah lebih besar dari yang bisa disediakan oleh bumi. Selain mempertimbangkan untuk menjadi vegetarian, masyarakat juga akan lebih ramah lingkungan dan sebisa mungkin mendaur ulang atau memperbaiki atau mendekorasi ulang atau mendonasikan barang-barang atau makanan yang masih layak.

Sebagai konsekuensi lanjutannya, keberhasilan suatu bangsa tidak lagi hanya diukur dari Growth Domestic Product (GDP) tetapi juga Growth Domestic Happiness (GDH) atau Growth Domestic Well-being (GDW).

COVID-19 berdampak signifikan terhadap dunia usaha sehingga karyawan diberhentikan/dirumahkan atau bekerja dari rumah.

Yang pasti mereka akan membutuhkan penyesuaian perilaku bahkan kalaupun mereka mendapatkan kembali pekerjaan mereka dan beraktivitas seperti biasa. Selama bekerja mereka harus tetap patuh dan menjalankan perilaku sesuai protokol Kesehatan.

Karyawan yang berada pada kelompok middle income ke atas biasanya melakukan saving sebelum dan selama masa pandemik. Apabila kelompok ini kehilangan pekerjaan, mereka akan mencari peluang untuk pengembangan diri, misalnya dengan ikut kursus/pelatihan, mendapatkan brevet dan sertifikasi, atau bahkan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Yang jadi masalah adalah sekelompok orang yang sama sekali tidak lagi menerima gaji dan saving (tabungan) mulai menipis atau bahkan habis.

Satu hal yang pasti, selalu ada jalan untuk semua masalah, asal mau berusaha dan tidak menjaga gengsi. Kelompok ini akan berusaha melakukan sesuatu untuk setidaknya memenuhi kebutuhan pokok. Perilaku entrepreneurial (kewirausahaan) berkembang lebih banyak di masyarakat.

Mereka secara kreatif menjual berbagai jenis barang atau jasa yang memang dibutuhkan orang lain. Banyak yang menawarkan sayuran, buah-buahan, dan bahan pokok lainnya, serta jasa pengantaran, bahkan jasa wisata virtual. Ini hanya segelintir dari banyak perilaku inovatif yang tiba-tiba muncul selama wabah COVID-19.

Perilaku menolong, seperti memberikan pinjaman lunak dan donasi juga sumbangan lainnya cukup berkembang di masyarakat selama wabah COVID-19. Tidak hanya pada kalangan menengah ke atas, tetapi masyarakat biasa juga menyadari pentingnya menolong sesama, misalnya menyediakan makanan gratis atau bahan-bahan pokok lainnya.

Perilaku sosial lainnya juga berkembang, seperti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keseimbangan antara kerja dengan kehidupan sosial dan keluarga akan menjadi kebiasaan baru.

Masyarakat akan memberikan nilai yang lebih tentang pentingnya kehidupan berkeluarga, berteman, dan komunitas. Wabah COVID-19 juga menggugah kesadaran akan kerentanan kehidupan manusia secara keseluruhan sehingga perilaku beragama dan spiritualitas menjadi lebih berkualitas.

Masyarakat menjadi lebih sadar tentang makna ritual keagamaan dan kaitannya dengan kematangan spiritual dengan memandangnya sebagai proses mencari sesuatu yang lebih utama dan bermakna.

Tantangan ke Depan

Berdasarkan paparan di atas dapat dilihat bahwa wabah COVID-19 tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi juga mengindikasikan dampak positif terhadap perubahan perilaku. Dalam jangka pendek untuk menghadapi ancaman COVID-19, protokol kesehatan dan kebijakan pemerintah menjadi panduan untuk berperilaku. Sedangkan untuk jangka panjang justru banyak perilaku yang terbentuk secara konstruktif yang membuat kehidupan manusia ke depan akan lebih baik.

Perilaku yang diharapkan antara lain seperti yang sudah disebutkan di atas berkaitan dengan perilaku hidup sehat, penggunaan teknologi, kebiasaan baru di sektor Pendidikan, perilaku dalam media sosial, perilaku kerja, perilaku konsumen, dan perilaku sosial keagamaan akan berubah menjadi lebih baik dan efisien.

Perubahan perilaku untuk kenormalan baru, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, perlu di pelihara, dikembangkan, dan dimodifikasi.

Terdapat sembilan upaya yang dapat dilakukan untuk merancang dan mengevaluasi perubahan perilaku, menurut Michie dan kawan-kawannya, yaitu edukasi, persuasi, insentif, penerapan aturan, pelatihan, pembatasan, restrukturisasi lingkungan, modeling, dan pemberdayaan.

Kesembilan upaya tersebut dapat digunakan oleh kalangan psikologi, baik sebagai individu maupun organisasi, serta pemerintah untuk menimbang intervensi yang paling sesuai dalam rangka perubahan perilaku untuk kenormalan baru sebagai dampak dari wabah COVID-19.

Bersiap untuk kenormalan baru, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu


Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 14
Kamis, 4 Juni 2020

Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:
1. https://bit.ly/himpsieducovid 
2. https://bit.ly/bantuanpsikologi
3. https://publikasi.himpsi.or.id
4. https://bit.ly/relaksasipsikologis 
5. https://bit.ly/himpsipeduli
6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa