MERAJUT KEBAIKAN MENGHADAPI WABAH

Oleh : Dr. Preysi Sherly Siby, SE., S.Psi., M.Si.

(Bendahara PP HIMPSI)

 

Jumlah pasien positif COVID-19 masih terus meningkat. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan untuk memperlambat persebaran virus ini, mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar sampai dengan menerjunkan ribuan tenaga kesehatan ke Rumah Sakit seluruh penjuru wilayah di Indonesia. Bahkan BNPB telah mendapatkan 18.000 lebih relawan kesehatan maupun non kesehatan yang siap memberikan bantuannya. Seluruh kementerian juga telah membuat berbagai program dan pedoman dalam rangka bersinergi menyelesaikan pandemik ini.

 

Belum lagi kiprah hampir seluruh organisasi profesi memberikan informasi yang akurat tentang bagaimana seharusnya dalam menghadapi wabah ini di berbagai media massa. Masyarakat luas tidak mau kalah, membantu satu dengan lainnya lewat berbagai cara, antara lain: mengumpulkan donasi untuk diberikan warga yang terkena dampak ekonomi langsung, membelikan alat pelindung diri, vitamin dan makanan bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan, UMKM membuat APD dan memproduksi desinfektan yang bisa menekan harga di pasaran yang sempat tidak dapat dikendalikan, kalangan Perguruan Tinggi yang memproduksi berbagai model penanganan wabah, dan tidak terhitung berbagai cara yang dilakukan komunitas maupun perorangan yang semuanya berharap ada kemenangan saat bersama menghadapi wabah.

 

Selain berbagai strategi tersebut, ada banyak hal yang dapat dilakukan masyarakat dan keluarganya untuk berpartisipasi untuk menghadang penularan COVID-19 ini:

 

1. *Jadikan diri kita pahlawan dengan tetap di rumah*: Berusaha menjadikan diri kita menjadi bagian dari penghadang penularan wabah COVID-19. Hal ini memang menjadi bagian awal kebijakan Pemerintah agar setiap orang memaksimalkan berada di rumah, Belajar di Rumah, Bekerja di Rumah dan Beribadah di Rumah. Jadikan rumah sebagai tempat untuk mengistirahatkan diri dan mengoptimalkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Komunikasi yang minim dan intens yang sulit dilakukan dalam beberapa waktu sebelumnya, akan dapat dilakukan saat lebih banyak waktu di rumah. Bagi yang memiliki anak, ada banyak waktu untuk berbagi cerita, mendengar dan mengikuti perkembangan anak dengan lebih intensif. Perilaku kelekatan antara orang tua dan anak dapat memunculkan keikatan emosional dan ke depan nantinya anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal;

2. *Memperbaiki perilaku sehat*: Selama ini banyak yang tidak peduli dengan perilaku hidup sehat. Banyak waktu istirahat yang digunakan untuk bekerja, lebih banyak mengkonsumsi junkfood dan minuman alkohol, meluangkan waktu lebih banyak di café yang penuh dengan asap rokok, menghirup udara penuh polusi karena tidak menggunakan masker saat berangkat kerja, tidak mengindahkan kebersihan diri, dan berbagai perilaku tidak sehat lainnya. Saat wabah ini datang, sebagian besar perilaku buruk berubah dengan cepat menjadi perilaku yang sadar akan kesehatan. Perilaku sehat untuk mengikuti pola makan yang benar, olah raga teratur, menurunkan konsumsi minuman alkohol dan rokok, menggunakan masker, cuci tangan, menggunakan hand sanitizer, kesemuanya akan membuat seseorang menjadi lebih sehat. Orang yang berperilaku sehat tentunya tidak akan menularkan penyakit dan tidak mudah menurun imunitasnya;

3. *Lebih banyak waktu untuk kontemplasi*: saat tidak banyak lagi beban pekerjaan, maka akan semakin memudahkan untuk melakukan perenungan tentang berbagai hal yang sudah kita lakukan selama ini, apa yang harus diperbaiki dan target apa ke depannya nanti. Perenungan diri akan menghasilkan ketenangan, kelimpahan hati, kemampuan bersikap realistis, keyakinan akan masa depan, keluasan pemikiran, kebahagiaan dan akan merajut segala hal yang positif. Relaksasi selama 10-15 menit sehari akan lebih membantu untuk mengatasi berbagai persoalan yang dirasakan saat menghadapi wabah ini;

4. *Meningkatkan Kepedulian*: Saat bekerja tidak ada lagi waktu untuk menaruh perhatian, menolong dan empati pada orang lain. Segala hal yang dilakukan hanya untuk diri sendiri, kepentingan diri dan sulit untuk mempedulikan nasib orang lain. Saat wabah ini terjadi, maka ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan, sulit mendapatkan rejeki, berkurang mata pencahariannya, terkena virus karena perilaku atau dampak dari pekerjaan sebagai tenaga kesehatan, keluarga yang mendapatkan imbas dari anggota keluarga yang terkena virus atau meninggal karena virus dan masih banyak lagi. Saat-saat seperti inilah yang menjadi kesempatan bagi kita untuk memberikan yang kita miliki kepada orang lain. Saat memiliki waktu, berikan waktu untuk menyapa pada mereka yang kesulitan dan mensupport mereka yang berjuang mencegah penularan wabah. Saat memiliki materi cukup, maka dapat memberikan bantuan apapun yang saat ini sangat dibutuhkan. Saat inilah waktu yang tepat untuk peduli dan empati pada orang lain. Dukungan dalam bentuk apapun akan memberikan dampak yang positif pada orang lain untuk menularkan kebaikan pada semua orang. Mengirimkan berita positif akan dapat mengurangi kecemasan yang sekarang ini menjadi persoalan pada semua orang;

 

Saat keempat hal di atas tersebut dilakukan oleh semua orang, maka akan menjadi gelombang besar yang akan memunculkan tsunami kebaikan yang efektif untuk menghadang terpaan topan wabah global ini.

 

Tetap aman, jaga jarak, cuci tangan, tetap sehat, saling dukung.