Menghidupkan Percakapan Positif yang Memberdayakan di Ruang Keluarga

Oleh:  Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si.

Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) - HIMPSI

Minggu demi minggu hingga bulan berlalu, kita masih terus berada pada situasi yang mengharuskan untuk tetap beraktivitas dari rumah. Mendampingi anak belajar, sambil mengerjakan berbagai tugas lain yang kadang terasa monoton dan membawa kejenuhan. Belum lagi adanya kekhawatiran terhadap kondisi pandemi yang tampak masih enggan untuk mereda, membuat emosi kerapkali fluktuatif.

Lalu berkembang rangkaian kekhawatiran berikutnya tentang pekerjaan, pendidikan anak, dan hal-hal lain yang terancam keadaan, sehingga tanpa sadar suasana psikologis yang negatif dari orangtua pun merembet ke anak. Orangtua stres, anak pun demikian, suasana rumah jadi tidak menyenangkan.

Menjalani situasi ini, diperlukan kerjasama yang baik antar anggota keluarga. Perlu kesadaran untuk menciptakan atmosfer rumah yang positif, nyaman bagi semuanya. Sebab pada dasarnya, setiap kondisi lingkungan yang berbeda adalah ruang-ruang belajar yang penting bagi setiap orang. Terlebih bagi anak yang sedang dalam proses mengembangkan berbagai ketrampilan personal dan sosial untuk kemandirian dan kehidupannya kelak.

Belajar untuk menyaring dan mengolah informasi, mengelola emosi, serta berperilaku tertentu sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap perubahan situasi yang dihadapi. 

Terkait itu, komunikasi atau percakapan dalam keluarga adalah kunci keberhasilan relasi antar individu dalam keluarga. Percakapan dalam keluarga adalah jembatan penting dalam mengkondisikan situasi rumah dan membangun interaksi yang nyaman dalam ruang-ruang keluarga.

Percakapan positif dalam keluarga akan menjadi jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan pesan-pesan dan umpan balik dengan cara-cara yang mudah diterima satu dengan yang lain dan memberi perasaan yang aman dan nyaman bagi semua anggota keluarga.

Pesan dan umpan balik yang baik, ketika disampaikan dalam percakapan yang baik, akan dipersepsikan dengan baik pula oleh yang lain. Dampaknya akan membantu memunculkan kesadaran berperilaku positif sebagaimana yang diharap. 

Terdapat beberapa manfaat dari pola-pola percakapan positif, ketika dapat diupayakan setiap harinya.

Pertama, percakapan positif akan membangun kedekatan psikologis dalam keluarga. Anak merasa didengar dan pendapatnya dihargai oleh orangtua, begitu pula sebaliknya. Sekalipun mungkin tidak setiap saat orangtua dapat menemani aktivitasnya meski sama-sama di rumah, anak yang memiliki persepsi positif akan menunjukkan respon memahami dan mampu mengelola diri.

Kedua, dengan atmosfer tumbuh kembang yang sehat dalam keluarga, berbagai persoalan yang ditemui, ketidaknyamanan yang dirasakan di masa physical distancing ini akan lebih mudah diselesaikan, tanpa berlarut-larut dan berefek negatif terhadap relasi dalam keluarga.

Ketiga, percakapan positif juga akan mengoptimalkan stimulasi dan memperkuat proses belajar anak. Sebagai contoh, ada sekian banyak anak yang memiliki sarana belajar memadai di rumah ternyata tidak menunjukkan hasil belajar dan capaian perkembangan yang sejalan. Sebaliknya, ada anak-anak dengan perlengkapan belajar dan bermain yang seadanya bahkan serba terbatas justru mampu menunjukkan perkembangan belajar yang lebih baik. Mengapa? 

Karena orangtua mereka berbeda keaktifan dalam membangun relasi antar anggota keluarga. Relasi yang baik akan mengoptimalkan stimulasi dengan berbagai percakapan interaktif yang memotivasi rasa ingin tahu dan semangat untuk mencoba. Jadi isi dan proses percakapan selama orangtua menemani anak belajar di rumah berkontribusi besar terhadap hasil belajar, bukan semata-mata sarana atau fasilitasnya.

Keempat, dengan adanya relasi yang baik antar anggota keluarga, atmosfer tumbuh kembang positif yang terbangun, serta optimalnya stimulasi perkembangan anak, maka problem-problem perilaku yang tidak diinginkan pun akan dapat diantisipasi. Langkah pencarian solusi atas problem yang terlanjur muncul pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Konsep percakapan positif atau dialog apresiatif dan memberdayakan dalam keluarga ini muncul dari prinsip-prinsip pengasuhan apresiatif (appreciative parenting). 

Pengasuhan apresiatif merupakan sebuah pendekatan positif dalam pengasuhan. Melalui interaksi yang didasarkan pada percakapan positif atau dialog apresiatif, anak akan difasilitasi agar dengan penuh kesadaran mampu memunculkan pola-pola perilaku baik dan adaptif terhadap berbagai kondisi di lingkungan sosial.

Terdapat 4 prinsip dalam pengasuhan apresiatif, yaitu:

(1) Prinsip konstruksionis (kata-kata menciptakan dunia), bahwa kata-kata, setiap kalimat yang terucap dalam pembicaraan sehari-hari dapat mempengaruhi bagaimana dunia, sekitar kita dipersepsikan. Karena itu, prinsip ini menekankan pentingnya pemilihan kata-kata positif yang membangun, mengapresiasi, menguatkan, membangkitkan harapan dan optimisme dalam dalam interaksi antara orangtua dan anak.

(2) Prinsip positif (dialog positif membuat perubahan positif), bahwa percakapan yang positif, dialog yang konstruktif akan mendorong munculnya perubahan yang positif. Dialog-dialog yang memberdayakan, akan membawa anak untuk berdaya menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan. Jadi bukan asal percakapan yang isinya penuh dengan keluhan atas keadaan yang sedang dihadapi, kritik dan koreksi dari orangtua yang mendominasi, sebagaimana seringkali kita temukan di sekitar;

(3) Prinsip antisipatorik (imaji menginspirasi tindakan), bahwa dialog yang mendorong kebaikan di dalam lingkup keluarga dan perkembangan anak harus dilakukan setiap saat, dijadikan sebagai pola rutin tanpa menunggu datangnya persoalan terlebih dahulu. Hal ini karena imaji positif akan menginspirasi munculnya perilaku positif, sekaligus dapat memberikan efek antisipatif terhadap kemungkinan munculnya problem yang tidak diharapkan. 

(4) Prinsip keberlanjutan (keberlanjutan membuat efektivitas), yang menghendaki komitmen dan konsistensi orangtua dalam menerapkan dialog-dialog memberdayakan dalam setiap interaksi di ruang-ruang keluarga, sehingga nantinya dapat diperoleh hasil yang optimal.

Jadi cukupkan mengeluh, ubah pesimisme dalam percakapan di rumah menjadi perbincangan yang optimis, yakin bahwa segala kesulitan akan dapat teratasi, agar tetap ada harapan, semangat dan upaya baik yang lebih berguna di tengah panjangnya masa pandemi yang penuh keprihatinan bersama ini.

Tetap di kota, jangan mudik, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu.

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 08

Kamis, 14 Mei 2020

Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1.https://bit.ly/himpsieducovid 

2.https://bit.ly/bantuanpsikologi

3.https://publikasi.himpsi.or.id

4.https://bit.ly/relaksasipsikologis 

5.https://bit.ly/himpsipeduli

6.http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa