Mengatasi Kecemasan  Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Dr. Indun Lestari Setyono, M.Psi., Psikolog

Ketua Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI) HIMPSI

“Kenapa tidak belajar di sekolah, lebih enak,  di rumah mama galak dan penjelasannya aku nggak  ngerti, mama marah-marah kalau ditanya”. Itu salah satu keluhan seorang anak yang sedang belajar di rumah. Sementara ibu pun mengatakan “uuuh bagaimana sih soalnya mudah seperti ini kok sulit ngertinya. Sudah gitu malas lagi ngerjainnya, bagaimana kamu bisa jadi pinter, keluh  ibu. 

Komunikasi seperti di atas sering ditemukan dalam keluarga di masa Pandemi COVID-19 ini.  Sekolah diliburkan, tetapi guru diwajibkan memberi pembelajaran yang harus dikerjakan di rumah yang disebut pembelajaran jarak jauh atau SFH. Materi pembelajaran diberikan melalui orang tuanya, dan  orang tua diminta untuk melakukan  pendampingan ketika anak akan menyelesaikan tugas tersebut. Tugas disesuaikan dengan ketentuan kurikulum pendidikan nasional. Ibu diminta  menyampaikan tugas tersebut  kepada anaknya. Ibu berpikir anaknya secara otomatis akan mengerjakan tugas dan kemudian kalau sudah selesai, tinggal menyerahkan hasilnya pada guru untuk diperiksa. 

Akan tetapi pada saat  anak diberi tugas, anak menampilkan sikap yang tidak semangat, malas-malasan untuk mengerjakannya. Apalagi ketika anak tidak paham maksud dari pertanyaan soalnya. Ketika anak bertanya pada ibu, Ibu menerangkan dengan pengertian berdasarkan pengalamannya ketika mengikuti  pendidikan pada level yang sama. Ternyata anak semakin tidak mengerti penjelasan ibu, karena tidak sama dengan kebiasaan guru anak ketika menerangkan. 

Timbul rasa kesal dan cemas, takut dimarahi ibu dan merasa akan gagal tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik. Melihat reaksi anak, ibu menjadi jengkel dan cemas, karena takut ditegur guru bila belum menyerahkan tugas anaknya. 

Suasana belajar menjadi tidak nyaman baik untuk ibu yang bertanggung jawab terhadap guru dan anak yang harus menyelesaikan tugas. Kondisi PSBB yang memaksa setiap orang harus tetap tinggl di rumah, masih belum bisa ditentukan waktu berakhirnya.

Sementara itu, tinggal di rumah berbulan-bulan dengan aktivitas yang terbatas akan menumbuhkan perasaan cemas dan tidak nyaman, sehingga situasi ini dikhawatirkan akan memunculkan interaksi anak dan ibu atau orang tua menjadi tidak harmonis. 

Permasalahan pembelajaran jarak jauh bukanlah suatu permasalahan sederhana, yang hanya sekedar memidahkan belajar di sekolah dengan belajar di rumah. 

Perlu ditumbuhkan pengertian semua pihak tentang peran dan fungsi masing-masing, baik guru dan orang tua, serta kedua pihak perlu mempunyai pemahaman terhadap kemampuan belajar anak. 

Peran dan fungsi guru adalah sebagai pemberi tugas, yang perlu mempertimbangkan tujuan perubahan yang akan dicapai, menambah pengetahuan atau meningkatkan keterampilan. 

Pertimbangan lainnya adalah tugas harus bisa membuat berpikir aktif, dan membuat pertanyaan yang mudah dipahami anak. Anak harus bisa menemukan  langkah-langkah penyelesaian tugasnya.  

Misalnya untuk memberi tugas science untuk siswa kelas 2  SD. Siswa diminta membuat percobaan terjadinya hujan dan membuat  laporan kejadian  mulai persiapan bahan-bahan, langkah proses, dan hasil percobaannya. Kalau diuraikan seperti tersebut di atas, ibu akan dapat mengontrol bagaimana anak menyelesaikan tugas tersebut.

Peran dan fungsi ibu sebagai pendamping anak, yang bertugas mengontrol cara kerja dan cara berfikir anak, bukan membantu menyelesaikan tugasnya. 

Biarkan anak menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu. Bila cara penyelesaian yang dipakai anak, tidak masuk akal, ibu harus bertanya mengapa anak menyelesaikan dengan cara seperti itu. Pertanyaan itu untuk mengetahui bagaimana anak berfikir. Ibu tidak langsung menyalahkan anak. Setelah itu, baru anak diajari cara berfikir yang tepat. Bila anak mengalami kesulitan memahami maksud dari pertanyaan, maka ibu meminta anak membaca kembali soalnya.

Tanyakan pengertian anak dari pertanyaan yang ia baca. Kalau pengertiannya masih salah, maka anak diminta untuk membuka catatan atau buku pelajarannya. Anak diminta membaca dan menemukan pernyataan yang sesuai untuk menjawab pertanyaan. Kalau anak masih sulit mengerti, maka ibu mengajak anak berdiskusi sampai anaknya paham. 

Anak butuh belajar menemukan pengertian dari materi yang belum dipahami. Langkah yang dimulai dengan anak membaca soal, kalau tidak paham pertanyaan, ia perlu mengambil catatan untuk menemukan pengertian dari pertanyaan. Kegiatan tersebut merupakan proses belajar mandiri untuk mengembangkan kemampuan problem solving. Proses ini akan mengembangkan kemampuan berpikir anak dan meningkatkan motivasi belajar anak. Ibu perlu percaya kompetensi yang dimiliki anak, sehingga tidak perlu mencemaskan kemampuan berpikir anak. Percayalah bahwa anak mempunyai akal dan kemampuan berpikir yang diikuti oleh dorongan energi psikis yang bisa diarahkan untuk memuaskan dirinya.

Kepuasan yang dicapai melalui keberhasilan belajar akan mengembangkan motivasi.  

Pada sisi anak, anak perlu mempersiapkan diri untuk belajar. Anak perlu memiliki atensi dan konsentrasi yang baik untuk memproses informasi yang ia terima.

Atensi yang tidak focus dan  konsentrasi yang mudah terganggu, akan membuat anak selalu meminta toleransi  tidak mengerjakan tugas. Kondisi ini yang membuat interaksi ibu-anak tidak nyaman. Atensi dan konsentrasi ini yang membuat anak sulit paham, sekalipun telah dijelaskan oleh ibu berkali-kali.

Ekspresi anak biasanya melamun, yang membuat ibu menjadi jengkel merasa tidak diperhatikan. Bila kondisi ini yang terjadi dan sering demikian, maka anak membutuhkan intervensi dalam bentuk terapi. 

Orang tua dan guru perlu meningkatkan kepercayaan bahwa anak memiliki kemampuan berpikir, kemampuan meregulasi emosinya, dan juga bisa mengatur penyaluran energi dan irama belajarnya, untuk menemukan cara belajar yang nyaman. Hanya yang perlu disikapi orang tua dan guru, selama anak ini sedang memproses dirinya untuk mengembangkan potensi belajarnya, perlu mempertimbangkan stimulan atau pembelajaran yang tepat untuk dipikirkan siswa bisa meningkatkan keterampilan belajarnya. Berilah anak kesempatan untuk mempelajari semua tugas yang dihadapi secara mandiri. 

Jangan berpikir anak saya tidak bisa, tetapi “anak sedang belajar untuk bisa”.

Tetap di kota, jangan mudik, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu.

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 10 

Kamis, 21 Mei 2020


Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1. https://bit.ly/himpsieducovid 

2. https://bit.ly/bantuanpsikologi

3. https://publikasi.himpsi.or.id

4. https://bit.ly/relaksasipsikologis 

5. https://bit.ly/himpsipeduli

6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa