LAWAN STIGMA SOSIAL DENGAN EMPATI SOSIAL

Ike Herdiana, M.Psi., Psikolog

Ketua Bidang Pengabdian Pada Masyarakat HIMPSI JATIM

Pemberitaan dalam negeri setiap hari melakukan pembaruan data, dari mulai jumlah positif terinfeksi, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), orang tanpa gejala (OTG), pasien meninggal akibat terinfeksi covid-19, maupun pasien meninggal yang belum tentu terinfeksi covid, namun dilakukan pemulasaraan jenazah dengan menggunakan SOP covid-19. Pemberitaan tersebut menimbulkan stres pada masyarakat. 

Masyarakat yang memiliki stres positif (eustress) melakukan upaya-upaya sehat seperti  menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menggunakan masker, menggiatkan olahraga dan gerakan berjemur, minum vitamin, mengkonsumsi nutrisi baik, melakukan social distancing dan physical distancing.

Masyarakat dengan stres negatif (distress) cenderung memiliki emosi yang lebih labil, mengalami keluhan-keluhan fisik (psikosomatis), penilaian negatif terhadap banyak hal dan menunjukkan perilaku-perilaku yang tidak mampu dikendalikan, seperti terlalu banyak makan atau merokok. 

Dalam kondisi ini, masyarakat mudah sekali menghubungkan kondisi ini dengan menyalahkan keadaan dan membangun penilaian negatif terhadap segala hal yang terkait dengan isu pandemik COVID-19. Salah satunya muncul dalam bentuk stigma sosial. 

Menurut WHO, stigma sosial dalam konteks kesehatan adalah hubungan negatif antara karakteristik individu atau kelompok dengan penyakit tertentu. Pada kasus COVID-19, stigma awalnya menyerang orang-orang yang berasal dari area/wilayah terinfeksi saja. 

Saat ini stigma hadir dalam bentuk pemberian label, stereotip, pemisahan, penghilangan status dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terhubung dengan COVID-19. Dalam kasus COVID-19, ada peningkatan jumlah laporan stigmatisasi publik terhadap orang-orang dari daerah terjangkit. 

Di Indonesia, stigma sosial muncul dalam bentuk sebagai berikut : 

(1) mengucilkan penyintas atau pasien yang telah sembuh dari COVID-19, karena dianggap masih dapat menularkan penyakitnya; 

(2) menolak dan mengucilkan orang yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain;

(3) mengucilkan etnis tertentu karena dianggap sebagai pembawa virus; 

(4) mengucilkan tenaga medis/kesehatan yang bekerja di rumah sakit, karena dianggap dapat menularkan virus corona; 

(5) menolak jenazah karena dianggap masih membawa virus yang dapat ditularkan kepada orang lain; 

(6) mengucilkan keluarga pasien, tenaga medis dan orang-orang yang berpindah tempat.

Stigma sosial muncul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang fenomena pandemik yang sedang terjadi, adanya prasangka dan diskriminasi terhadap individu atau kelompok yang sudah mendapatkan label tertentu terkait dengan COVID-19.

Tanpa disadari, stigma sosial ini bisa sangat melukai seseorang/kelompok, bahkan lebih berdampak negatif bagi kesehatan mental dibandingkan virusnya itu sendiri. Beberapa dampak yang bisa saja terjadi adalah sebagai berikut: 

(1) mendorong orang untuk menyembunyikan penyakit yang diderita untuk menghindari diskriminasi;

(2) membuat orang tidak mau mencari perawatan kesehatan segera ketika mengalami gejala; 

(3) berkontribusi pada masalah kesehatan yang lebih berat, penularan berkelanjutan dan kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus corona. Jika ini terjadi hampir bisa dipastikan wabah ini masih akan berlangsung lama, karena dapat berdampak terhadap peningkatan jumlah kasus terinfeksi.

Kita harus melawan stigma sosial dengan empati sosial. Elisabeth Segal, penulis buku Social Empathy: The Art of Understanding Others, mendefinisikan empati sosial sebagai kemampuan untuk memahami orang lain, dengan merasakan atau memahami  situasi kehidupan mereka dan sebagai hasilnya mendapatkan wawasan tentang ketidaksetaraan dan kesenjangan struktural.

Ketika kita memiliki pemahaman mendalam tentang pengalaman hidup individu/kelompok yang berbeda dengan kondisi diri kita sendiri, berarti kita belajar tentang latar belakang mereka, hambatan juga dukungan terhadap persoalan mereka, dan merasakan seperti apa rasanya berada dalam posisi terpinggirkan. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan menjadi faktor penting untuk dapat mengubah stigma sosial menjadi empati sosial.

Berikut beberapa upaya meningkatkan empati sosial untuk mengurangi stigma sosial yang bisa diterapkan dalam masyarakat:

1.Peduli pada sesama, melalui pemberian bantuan pada masyarakat yang lebih membutuhkan, mendukung dengan cara membeli produk usaha kecil menengah yang masih berjuang untuk bertahan hidup, berdonasi untuk penyediaan paket perawatan medis yang dibutuhkan, dan lainnya.

2.Kendalikan panic buying, dengan cara membatasi jumlah pembelian, sesuaikan dengan kebutuhan, agar orang lain dengan tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan hidup harian mereka.

3.Membagi informasi positif, berdasarkan fakta baik tentang COVID-19 maupun membagi informasi positif lain yang dapat berperan mengurangi stigma dalam masyarakat.

4.Memberikan dukungan kepada orang yang terstigma, dengan mengendalikan pikiran kita tetap positif terhadap orang terstigma, menyatakan penerimaan dan memberikan ruang untuk mereka kembali ke masyarakat tanpa rasa takut.

5.Menumbuhkan sikap ‘turut merasakan’, dengan menyimak testimoni dari pasien sembuh COVID-19 beserta kelompok dan keluarga yang selama ini telah mendukung pasien untuk pulih atau mendengar cerita dari berbagai macam kelompok etnis untuk memberikan gambaran bahwa usaha mereka untuk sembuh tidak berbeda dengan kita.

6.Bijaksana mengkonsumsi informasi dari media sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi, hindari hoax, cek ricek segala pemberitaan yang ingin kita ketahui, dan membuka website resmi pemerintah. Hal ini harus didukung pula oleh pemberitaan media yang seimbang dan kontekstual, disebarkan berdasarkan bukti informasi dan membantu memerangi rumor yang mengarah pada stigmatisasi.

7.Galakkan kegiatan sosial positif, untuk menciptakan gerakan dan lingkungan yang menunjukkan kepedulian dan empati untuk semua. Bisa diawali dari lingkungan rumah sendiri, dengan tetap terkoneksi dengan tetangga sehingga mengetahui mana dari tetangga kita yang membutuhkan pertolongan.

Tetap terkoneksi – saling dukung - membagi hal baik – berpikir positif – stop diskriminasi


Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 13 

Senin, 1 Juni 2020


Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1. https://bit.ly/himpsieducovid 

2. https://bit.ly/bantuanpsikologi

3. https://publikasi.himpsi.or.id

4. https://bit.ly/relaksasipsikologis 

5. https://bit.ly/himpsipeduli

6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa