Kepemimpinan Empati di Masa Pandemic COVID-19

Oleh: Dr. Ayu Dwi Nindyati, Psikolog

Sekretaris Jenderal PP HIMPSI

Di Indonesia, kebijakan physical distancing dan PSBB membawa konsekuensi keharusan untuk bekerja di rumah atau dikenal dengan work from home (WFH). Bagaimana kinerja dan produktivitas karyawan selama WFH menjadi pertanyaan banyak pihak. Sudah banyak kiat-kiat bagaimana tetap produktif dengan WFH yang disampaikan melalui tulisan, poster atau seminar-seminar daring. Sebagian besar kiat yang diberikan berangkat dari sudut pandang karyawan untuk menjadikan WFH ini menjadi produktif.

Belum banyak yang menyoroti dari sudut pandang pemimpinya. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana peran pemimpin dalam menjaga atau meningkatkan produktivitas karyawan semasa WFH? 

Ketika karyawan bekerja dari rumah, karyawan menghadapi situasi baru. Karyawan dituntut untuk beradaptasi dengan situasi baru tersebut. 

Tuntutan dan persoalan yang dihadapi karyawan yang bekerja di rumah dapat lebih tinggi dari ketika bekerja di kantor. Perubahan situasi dan tuntutan serta persoalan dari bekerja di kantor ke bekerja di rumah terlebih dalam masa pandemi seperti saat ini, tentu menuntut pemimpin untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat. Kepemimpinan empati dapat menjadi salah satu pilihan pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinannya.

Empati dipahami sebagai suatu kemampuan untuk memahami kebutuhan orang lain, yang artinya mengerti dengan benar perasaan dan pikiran orang lain. Berkaitan dengan memahami kebutuhan, perasaan dan pikiran orang lain, ini tidak berarti kita setuju dengan mereka, namun kita menunjukkan kemauan untuk menghargai dan memahaminya. Empati akan mampu mempromosikan perilaku prososial maupun perilaku menolong orang lain. 

Dengan memahami prinsip dasar empati ini, maka bila dikaitkan dengan kemampuan mengarahkan dan mempengaruhi orang lain, pemimpin yang empati akan mampu mengarahkan orang lain dengan dilandasi oleh pemahaman akan apa yang dirasakan dan dipikirkan bawahannya. 

Lolly Daskal penulis buku The Leadership Gap: What gets between you and your greatness, menjelaskan ada enam cara empati yang akan membentuk kepemimpinan, yaitu:

1. Empati membangun keterikatan. Ketika anda peduli terhadap orang lain, maka anda tengah membangun keterikatan yang kuat. Anda akan dapat dengan mudah memahami ketertarikan dan motivasi mereka. 

Bayangkan bila teamwork kita, terbangun dengan empati, motivasi kerja tim akan tinggi.

2. Empati memberikan pemahaman. Pemahaman terbangun ketika kita mampu mendengarkan orang lain. Dengan mendengar kita belajar, dengan belajar kita akan memupuk pemahaman atas orang lain. Dengan memahami setiap cerita dari orang lain, maka kita akan mampu menyadari bahwa ada cerita dibalik setiap orang, ada alasan mengapa mereka menampilkan diri mereka saat ini. 

Dengan empati, maka akan membawa kita berpikir sebelum memberikan penilaian dan membuat asumsi tentang bawahan kita.

3. Empati mengajarkan kita hadir ketika bawahan membutuhkan. Dalam konteks ini, empati dikaitkan dengan kemampuan mendengar aktif. Kita sebagai pemimpin dituntut untuk fokus pada orang yang sedang kita ajak bicara, tanpa terganggu apapun. 

Kehadiran anda sebagai pemimpin saat ini adalah untuk mendengarkan, mengerti, membimbing dan mendukung, bukan bertujuan membetulkan atau memberikan saran. Dengan mengedepankan kondisi saat ini, artinya pemimpin akan menempatkan orang lain sebelum dirinya.

4. Empati membawa pada pengertian. Tidak mudah mempunyai pengertian mengapa seseorang merasa atau berpikir seperti yang mereka lakukan. Tidak sedikit kita dibuat terkejut dengan reaksi orang-orang di sekitar kita. Maka dengan empati dalam kepemimpinan kita, maka kita tidak perlu khawatir bagaimana merespon, karena sejatinya kepemimpinan empati bertujuan untuk mendengarkan bukan merespon, bukan membalas namun mengerti mengapa bawahan berperilaku tertentu. 

5. Empati mempertajam ketrampilan sosial. Upaya membangun ketrampilan orang lain bermula dengan ketertarikan kita sebagai pemimpin dengan apa yang dilakukan bawahan. Ketertarikan ini kita perlihatkan dengan menanyakan tantangan yang dihadapi, keluarganya dan aspirasinya. Dengan melakukan ini maka kita telah meningkatkan ketrampilan sosial.

6. Empati membangun iklim komunikasi yang lebih baik.  Ketika kita memperlihatkan empati kita terhadap orang lain, maka hal ini akan membuat orang lain merasa aman dan nyaman untuk menyampaikan apa yang dirasa dan dipikirkan. Hal ini yang mengawali adanya keterikatan dengan orang lain.

Pemimpin dapat memulai mengasah empati dari dalam dirinya. 

Empati yang diperlihatkan oleh pemimpin akan membuat orang yang dipimpin secara gampang terikat dan loyal dengan apa yang harus dikerjakan, karena adanya perasaan bahwa apa yang dilakukan dilihat sebagai sebuah proses bukan hasil semata.

Selamat mencoba.

Tetap di kota, jangan mudik, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu.