Kenali dan Hindari Terjangkit Demam Kabin

Oleh: Dr. Rini Sugiarti, M.Si, Psikolog

(Anggota Kompartemen 7 - Hubungan Nasional dan Internasional PP HIMPSI)

Masyarakat yang berada dalam kondisi terisolasi, baik karena kebijakan embatasan sosial berskala besar, atau terlebih yang harus terisolasi di rumah sakit atau di kamar sendirian dalam waktu yang lama dapat mengalami apa yang disebut deman kabin (cabin fever). Istilah demam kabin mengingatkan kita pada demam rumah sakit (hospital fever) yang terjadi pada tahun 1864 di Inggris, ketika harus dilakukan isolasi terhadap pasien yang menderita tifus. Istilah demam kabin muncul kembali pada awal tahun 1990 untuk menggambarkan kondisi orang-orang yang terisolasi di kabin karena udara yang sangat dingin, sehingga tidak memungkinkan untuk keluar.

Menurut kamus Mirriam-Webster, istilah ini dipakai pertama kali tahun 1918. Di Indonesia, istilah ini menjadi dikenal luas beberapa bulan terakhir ini melalui tulisan di berbagai media massa yang dikaitkan dengan pandemi COVID-19 saat ini. 

Menurut Wikipedia, demam kabin mengacu pada mudah marah dan tersinggung dalam ketakutan ruang tertutup yang membuat kondisi psikologis tertekan atau kegelisahan yang dialami ketika seseorang atau sekelompok orang terjebak di lokasi terisolasi atau di tempat terbatas dalam waktu yang lama. Seseorang dapat mengalami demam kabin dalam situasi seperti diisolasi di dalam pondok liburan di tempat terpencil, menghabiskan waktu lama di bawah air di kapal selam, atau terisolasi dari peradaban. Selama demam kabin, seseorang dapat memiliki keinginan untuk pergi ke luar ruang bahkan dalam kondisi buruk seperti cuaca buruk atau bahkan kondisi yang dapat membahayakan dirinya seperti keberadaan virus di luar. 

Demam kabin sendiri bukanlah penyakit atau gangguan psikologis, namun perasaan tertekan dalam waktu lama yang dapat memunculkan emosi dan perilaku negatif. Orang yang mengalami demam kabin akan merasa gelisah, lemah lesu atau motivasi menurun, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, sulit percaya pada orang di sekitar, tidak sabaran, merasa sedih dan depresi. Emosi dan perilaku negatif yang muncul dapat memperburuk situasi dirinya sendiri maupun orang lain atau hubungannya dengan orang lain. Demam kabin dapat menyebabkan penderitanya membuat keputusan irasional yang berpotensi mengancam kehidupannya sendiri atau kehidupan orang lain atau setidaknya membuat hubungan menjadi tidak nyaman yang dapat berujung konflik. 

Banyak berita di media massa yang menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian meningkat dalam masa pandemi sekarang ini, yang mungkin salah satunya disebabkan ada yang mengalami demam kabin.

Oleh karena itu, walaupun demam kabin bukan gangguan psikologis; namun kita harus berusaha untuk terhindar terjangkit demam kabin dengan beberapa cara diantaranya:

1. Lakukan rutinitas seperti biasa.

Bekerja atau belajar dari rumah, bukan menjadi alasan sebagai aktivitas tanpa target kerja produktif. Bekerjalah seperti biasa dengan jadwal bekerja seperti saat berada di kantor. Tentukan kapan waktu bekerja, waktu Bersama dengan keluarga, atau aktivitas lain termasuk istirahat, dan waktu tidur. Patuhilah pengelolaan waktu itu. 

Mahasiswa jangan menjadi kaum rebahan. Pergunakan waktu saat ini mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk pengembangan diri, carilah kesenangan sesuai hobi yang masih dapat dilakukan dalam situasi saat ini.

2. Buat rutinitas baru

Di sela–sela kegiatan bekerja atau belajar di rumah, kita dapat membuat rutinitas baru di dalam rumah seperti menata perabot rumah, memasak, membersihkan kebun, bercocok tanam, membersihkan  akuarium atau  kolam ikan di taman, atau aktivitas lain  yang dapat menimbulkan energi baru dan menyegarkan.

Riset membuktikan bahwa beraktivitas di luar rutinitas kerja  dapat meningkatkan mood, meringankan stress, dan membangkitkan perasaan positif.

3. Tetap terhubung

Tinggal di rumah sendiri, mengisolasi diri sendiri, bukan berarti kita harus kesepian, terlebih kita beruntung karena mengalami kondisi ini dalam situasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah seperti sekarang. Bertelepon mudah, bahkan melakukan pertemuan dengan audio visual juga mudah dan murah. Kita tidak dapat membanyangkan kalo harus seperti saat ini pada masa lalu. 

Tetaplah lakukan kontak dan komunikasi seperti biasa dengan teman, sahabat, rekan kerja atau siapapun yang menggugah suasana positif hati. Saling bertukar kabar, ‘ngobrol, berbagi cerita atau berbagi sesuatu yang membuat bahagia dapat dilakukan melalui platform digital. World Health Organization (WHO) menegaskan pentingnya komunikasi di tengah masa pandemi ini. Komunikasi merupakan kekuatan dan cara ampuh untuk  menjaga silaturahmi di tengah kecemasan, sehingga membuat kita merasa tidak sendirian.

4. Berolah raga

Riset telah membuktikan bahwa kegiatan olahraga terbukti dapat menurunkan hormon pembuat stres, salah satunya adalah hormon kortisol. Selama berolahraga, otak melepaskan hormon endorfin yang bisa meningkatkan mood dan memberikan rasa bahagia kepada kita.  Kita dapat berolah raga dasar seperti skipping (lompat tali), push up, squat, atau sit up; sehingga tidak diperlukan peralatan yang mahal.

Sesuaikan kemampuan fisik, karena terlalu memaksakan diri untuk berolah raga juga tidak akan membawa hasil yang baik.

5. Nikmati ketidaknyamanan

Mengatasi perasaan terisolasi tergantung pada kemauan kita memahami apa yang terjadi, termasuk memahami bahwa ada proses yang dapat dilakukan untuk menyelesaikannya.

Tantangan terbesar kita adalah menyadari bahwa kita tidak tahu berapa lama hal ini akan berakhir. Dalam hal ini, terdapat kurva belajar untuk kita optimis dapat melaluinya. Kita mengalami perasaan tidak ada harapan di awal dengan hari–hari yang begitu sulit, namun akhirnya kita dapat belajar untuk masuk ke tahap yang berbeda, dimana kita dapat dilewati dan mengatasinya dengan baik. 

Jika kita bisa menikmati ketidaknyamanan ini, kita akan dapat menerima kondisi terisolasi ini dan setidaknya tidak membuat situasi memburuk, namun akan menjadi lebih baik.

Semoga kita dapat melewati masa sulit ini dengan baik dengan menjaga diri kita tidak terisolasi secara mental dan mengalami demam kabin. Betapa menyenangkannya apabila kita tetap dapat menunjukkan diri kita sebagai pribadi yang tetap ceria, optimis dan kuat dalam menghadapi situasi sulit ini. Demam kabin juga tidak berlaku bagi kita yang memiliki perspektif positif. 

Sebagai catatan akhir, apabila anda masih mengalami demam kabin, anda dapat minta bantuan psikologi melalui layanan bantuan Psikologi untuk Sehat Jiwa (Sejiwa) dengan kontak 119 ext. 8. Mari bergandeng tangan, melewati masa krisis panjang ini menuju Indonesia lebih baik. 

Tetap di kota, tetap aman, jaga jarak, cuci tangan, tetap sehat, saling dukung.


Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 06

Kamis, 7 Mei 2020


Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1. https://bit.ly/himpsieducovid 

2. https://bit.ly/bantuanpsikologi

3. https://publikasi.himpsi.or.id

4. https://bit.ly/relaksasipsikologis 

5. https://bit.ly/himpsipeduli

6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa