Bersahabat dengan Pandemi

Pandemi COVID-19 telah membuat krisis kesehatan dan berdampak pada persoalan kesehatan mental serta berbagai persoalan ikutannya. Kecemasan semakin besar, persoalan ekonomi semakin menguat, stigmatisasi, kejahatan semakin banyak, persoalan kekerasan dalam rumah tangga semakin sering terjadi, dan sebagainya. Berbagai persoalan tersebut dialami baik orang per orang maupun masyarakat secara umum. Jun Zhang dkk (2020) mengungkapkan bahwa ketakutan dan kecemasan pada masyarakat yang mengalami pandemi COVID-19 disebabkan antara lain karena  kurangnya pengetahuan terkait COVID-19, kurangnya perilaku hidup sehat, ketidakmampuan menghadapi perubahan besar dan terjadi tiba-tiba, ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mengalami pandemi, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan mental dan fisik serta cara melakukan asesmen kesehatan mental secara mandiri, serta rendahnya coping psikologis. 

Dalam kondisi tersebut di atas, dapat terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang mengalami depresi maupun pasien positif, karena minimnya pengetahuan tentang pencegahan, penyebaran atau penularan COVID-19 dan upaya penyembuhannya. Untuk mengatasi kondisi tersebut, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah pemberian psychological crisis intervention yang mencakup 2 (dua) hal penting yakni: (1) intervensi untuk menurunkan kecemasan yang irasional; dan (2) intervensi untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan kondisi saat pandemi.

 

Saat seseorang mengalami kondisi kecemasan, segera meminta bantuan orang yang memiliki keahlian, seperti psikolog atau psikiater,  menjadi hal yang penting.  Namun demikian, secara internal harus ada keinginan yang kuat dari yang bersangkutan untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengelola pikiran dan emosi, sehingga menumbuhkan perasaan positif dan menyenangkan. Pengelolaan pikiran dan emosi dapat dilakukan dengan mempersepsikan pandemi COVID-19 tidak sebagai sebuah ancaman yang menakutkan walaupun tetap harus berwaspada, namun menjadikannya sebagai “sahabat” yang mengingatkan kita untuk hidup lebih baik, lebih bersih, lebih teratur dan lebih meningkatkan hubungan sosial dengan lingkungan sekitar serta lebih dekat dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.

American Psychological Association (APA) memberikan beberapa cara untuk bertahan menghadapi stres, yang dapat dijadikan sebagai acuan strategi untuk bersahabat dengan pandemik COVID-19. Cara tersebut antara lain:

1. Memelihara diri: Memelihara diri akan menjaga sistem imunitas dan kondisi emosi seseorang. Hal yang perlu dilakukan antara lain adalah tidur yang cukup, berolah raga secara teratur, makan yang bergizi, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, mencari aktivitas yang menyenangkan di rumah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, serta membuat kegiatan yang menyenangkan.

2. Mencari dukungan sosial: mengisolasi diri di rumah tentunya akan menimbulkan kebosanan, sehingga bertemu secara daring dengan teman-teman akan memberikan perasaan terdukung secara sosial satu dengan yang lainnya. Selain itu menghubungi saudara atau teman yang selama ini dilupakan akan membuat diri kita tidak merasa sendiri.

3. Menolong orang lain: dampak pandemi COVID-19 tidak hanya terjadi pada diri sendiri, namun mungkin keluarga, sahabat, teman, tetangga, atau orang yang kita kenal. Menolong dengan cara membuat orang yang ditolong menyadari bahwa mereka tidak sendiri sudah sangat membantu. Bantuan lain berupa mendoakan, memberikan barang sesuai kebutuhan, dan sebagainya tentu juga dapat membantu. Berikan apa yang kita berikan untuk membantu.

4. Membatasi diri untuk akses ke media: mendapatkan berbagai informasi terkini menjadi hal yang sangat penting agar kita mampu mengantisipasi semua persoalan, namun tidak jarang berita di media sosial justru meningkatkan kecemasan. Oleh karena itu pilahlah informasi yang dibaca atau dilihat atau didengar, pilih sumber yang terpercaya dan resmi dari Pemerintah untuk mendapatkan informasi yang benar terkait COVID-19.

5. Fokus pada segala hal yang bisa dikendalikan: kadangkala kita tidak bisa mengendalikan orang lain yang tidak mengindahkan imbauan untuk menjaga jarak fisik, pembatasan kegiatan, atau tidak menggunakan pelindung diri yang memadai, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan dapat memicu stres pada diri sendiri, namun demikian kita harus tetap berperilaku sehat dan fokus pada keamanan dan kesehatan diri sendiri, karena perubahan dimulai dari sendiri 

Cara sederhana tersebut akan dapat menguatkan diri kita dalam menghadapi masalah akibat pandemik COVID-19. Keyakinan diri dan optimis yang menumbuhkan harapan serta tetap waspada bahwa semua akan berlalu, juga dibutuhkan untuk kuat menghadapi situasi saat ini. Berbagai wabah penyakit yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, membuktikan bahwa yang paling mampu bertahan adalah manusia, karena mampu menjadikan wabah penyakit bukan sebagai musuh, namun sebagai sesuatu yang harus dihadapi tanpa adanya rasa tertekan yang berlebihan. Sebagaimana pandangan Charles Darwin bahwa “in the long history of humankind those who learned to collaborate and improvise most effectively have prevailed”.

Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, kelola emosi, saling bantu, dan tetap sehat.

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 02 

Kamis, 23 April 2020


BERSAHABAT DENGAN PANDEMI

Oleh: Dr. Andik Matulessy, Psikolog

(Ketua II PP HIMPSI; Ketua Gugus Tugas HIMPSI untuk Layanan Psikologi Covid-19)