BERKELIT DI SITUASI COVID-19

Oleh: Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog

Ketua Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO) – HIMPSI


Ide tulisan ini lahir dari sebuah inspirasi yang dilakukan seorang teman pemilik sebuah warung sambel di Yogyakarta. "Meski kita berada dalam situasi pandemi, kita semua harus terus berjuang", itulah kata yang diungkapkan sebagai kata semangat untuk seluruh karyawannya yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Setiap menengok IG teman itu, saya selalu dikejutkan dengan berbagai caranya untuk tetap menyalakan semangat dan sekaligus menyalakan dapur warungnya. Beragam ide pemikirannya untuk mencari terobosan baru dalam berjualan dan tidak melanggar protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Selain strategi "take away" yang bekerjasama dengan ojol, tiba-tiba hadir muncul varian bisnis baru berupa "Paket Bumbu Dapur". Luar biasa, sosok hebat satu ini, ia mampu "Berkelit di situasi COVID-19". 

Di Indonesia, ada pengusaha-pengusaha lain yang seperti teman saya itu, namun tidak sedikit yang terlilit di situasi COVID-19 dan tidak mampu atau gagal berkelit.

Pandemi COVID-19 kali ini memang begitu mengagetkan semua orang, bahkan semua kalangan masyarakat. Selain dampak yang terkait kesehatan, masalah perekonomian juga terasa begitu berat, apalagi bagi pengusaha UMKM. Hari demi hari, pengunjung atau konsumen mulai sepi dan semakin lama semakin menyusut. Meski demikian, pola beli konsumen pun berubah dan tetap ada konsumen walau berkurang.

Dunia bisnis atau dunia usaha, baik besar maupun kecil, semua merasakan dampak yang cukup siginifikan.  Paling tidak, kesiapan dunia usaha akan mengalami ujian sekitar 3-6 bulan, demikian pandangan dan prediksi para pengamat. 

Bagaimana para pengusaha mensikapi dan mencari solusi atas masalah ini?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang cara, ada baiknya dimulai dari perspektif masalah. Masalah dalam kehidupan dan bisnis selalu ada dua yaitu masalah yang rutin dan masalah non-rutin. Masalah rutin adalah masalah yang terjadi tatkala ada penyimpangan dalam alur proses atau alur kerja yang sudah ditetapkan. Salah satu contoh, seorang pembersih lantai yang seharusnya melakukan pembersihan tiap 3 jam ternyata tidak melakukannya. Tentu hasil kualitas kebersihan kantor menjadi tidak terjamin sesuai standard. 

Sementara itu, masalah non-rutin adalah masalah di luar hal-hal yang telah ditetapkan standar operasionalnya. Salah satu contoh dalam dunia usaha adalah terjadinya perubahan pola kebiasaan baca yang membuat bisnis koran harus berpikir keras untuk menyesuaikannya. 

Dalam bahasa yang sederhana, masalah rutin adalah masalah mudah diselesaikan dengan SOP yang ada, sementara masalah non-rutin adalah masalah yang tidak cukup hanya diselesaikan dengan SOP yang ada. 

Pandemi COVID-19 telah menghadirkan situasi permasalahan yang bersifat non-rutin. Hal ini berarti bahwa penyelesaian masalah yang timbul tidak bisa diselesaikan dengan SOP atau alur solusi yang sudah ada. Satu-satunya cara adalah mengembangkan pola pikir kreatif dan inovatif. 

Mau tidak mau, suka tidak suka dan terpaksa atau tidak terpaksa, para pelaku usaha harus berpikir keras tentang terobosan-terobosan baru dalam menghadapi situasi seperti ini. Tanpa pola pikir inovatif dan kreatif, sebuah usaha atau bisnis akan berujung pada kematian dalam berbisnis. 

Bagaimana caranya?

Tahap pertama, penerimaan diri terhadap kondisi yang ada dan kesiapan untuk merubah pola bisnis. Tahap ini merupakan kunci awal bagi setiap orang yang berada dalam perubahan.

Mengapa harus menerima?

Alasannya cuma satu, perubahan yang hadir adalah situasi yang tidak bisa dikendalikan sendiri. Secara psikologis, tahap ini merupakan tahap yang tersulit. Ibarat orang sehat, tiba-tiba diberitahu oleh dokter bahwa dia menderita CA, misalnya. Tentu tidak mudah menerima kondisi tersebut. Tak jarang reaksi yang muncul adalah penolakan secara psikologis. Masalahnya, semakin menolak dengan kondisi yang ada, maka semakin sulit seorang individu memikirkan langkah solusinya. Sama halnya dengan situasi saat ini, semakin mudah penerimaan situasi dan dampaknya, maka semakin terbuka bagi pelaku usaha atau bisnis memikirkan soluasi terbaiknya. Ketenangan dalam fase penerimaan diri atas permasalahan atau perubahan yang ada merupakan kunci terbaik. 

Tahap kedua, elaborasi pemikiran ide-ide terobosan dalam pemecahan masalah dengan pola pikir yang baru. Dalam buku "Innovation: Everybody's Business", Robert B. Tucker mengungkapkan tujuh ketrampilan inovasi yang perlu dikembangkan pada situasi ketidakpastian seperti saat ini, yaitu:

1. menemukan kesempatan baru dalam kesempitan; 

2. berani melawan asumsi yang umum; 

3. menemukan sisi lain dari kebiasaan konsumen; 

4. berpikir melampaui kebiasaan yang ada; 

5. menjadi pabrik ide; 

6.  menjadi inisiator dalam kolaborasi; dan 

7. bersedia menjadi inspirator ide baru. 

Ketujuh ketrampilan tersebut adalah ketrampilan yang dilakukan oleh sang pengusaha Warung Sambel yang menjadi inspirasi tulisan ini. 

Kesadaran akan perubahan kebiasaan memasak di rumah membuat ia memikirkan berbagai kesempatan baru dalam bisnis, maka muncullah ide "Dapur Masak ala Warung" untuk jualan resep-resep yang biasa dikembangkan dalam menyajikan masakan di warungnya. Ide ini merupakan wujud dari ketrampilan 1 sampai 4.

Idenya baru dan berlandaskan pada perubahan kebiasaan konsumen. Selain itu, ide ini melampaui asumsi yang ada tentang kebiasaan menyimpan rahasia bumbu dapur. Di sisilain, ide bekerjasama dengan ojol dan ide bisnis baru bumbu instan ala resep warung, merupakan implementasi dari ketrampilan 5 dan 6.

Dua tahap tersebut merupakan langkah sederhana untuk tetap bisa berinovasi dan tetap eksis dalam menjaga kehidupan dalam bisnis. Tentu saja, cara-cara tersebut tidak lahir dalam sekejap. Semua tidak lepas dari pengalaman dan pengamatan yang dijalani oleh para pebisnis baik skala besar maupun skala UMKM. Meski demikian hal tersebut bukanlah hal yang sulit bagi seseorang jika mau belajar, belajar dan belajar. 

Kata kunci sederhananya, membiasakan prinsip 3N (Niteni, Niroke, & Nambahi) atau dalam bahasa umumnya disebut ATM (Amati, Tirukan, & Modifikasi)

Satu catatan pentingnya adalah bahwa kondisi ketidakpastian bisa saja terjadi kapan pun dan disebabkan oleh situasi apapun. Siatuasi saat ini merupakan momentum yang sangat indah bagi setiap pebisnis atau siapa pun yang mau belajar bersahabat dengan ketidakpastian.

Berkelit di situasi COVID-19, ibarat sebuah kesempatan untu berkreasi ide dan mengasah ketrampilan untuk menjadi pribadi tangguh, baik dalam bisnis maupun dalam kehidupan.

Berjalan dalam ketidakpastian adalah sebuah kesempatan indah dalam menakhlukan tantangan demi tantangan. Selamat berselancar cantik dalam tantangan nan asyik.  

Tetap di kota, tetap aman, jaga jarak, cuci tangan, tetap sehat, saling dukung.

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi COVID-19 – Seri 07

Senin, 11 Mei 2020


Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19:

1. https://bit.ly/himpsieducovid 

2. https://bit.ly/bantuanpsikologi

3. https://publikasi.himpsi.or.id

4. https://bit.ly/relaksasipsikologis 

5. https://bit.ly/himpsipeduli

6. http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa