TAK BERDAYA, NAIF, ATAU BODOH?

Beberapa hari ini politik menunjukkan sisi gelapnya lagi, yaitu: memanfaatkan anak-anak dan remaja dalam agenda politk terencana berujung kekerasan dan kebencian. Anak-anak adalah anak-anak dengan berbagai kekuatan dan kelemahannya. Manusia-manusi srigala lah yang mencium kekuatan dan kelemahan anak-anak tadi dan memanipulasi mereka sedemikan rupa sehingga memberikan manfaat untuk pencapaian tujuan politik mereka yang kotor. 

Persoalannya adalah anak-anak biasanya subyek di bawah asuhan dan pengawasan - baik oleh ortu, pengasuh, masyarakat, institusi (pendidikan), maupun aparat penegak hukum. Kemarin ratusan (kalau mendekati seribu) anak lepas dari pengawasan ortu dan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk dikilik-kilik bak jangkrik aduan dan melakukan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak. Menyalahkan anak-anak itu saja sangatlah naif. Mereka jelas digerakkan, dan dikoreografi.  

Menganggap bahwa anak-anak itu bodoh atau tidak berkarakter (seperti dikonstruksi oleh wartanawan tv swasta Ibukota) juga tidak pada tempatnya. Mereka tahu bagaimana bermanuver, mempunyai logika sendiri untuk melawan dan survive dan sangat menikmati peranan heroik mereka dalam kekacauam yang tercipta. 

Tetapi gejala yang lebih mengkhawatirkan ketika anak-anak kita dicuri oleh politikus srigala ini kita sebagai orangtua, guru, kepala sekolah, dinas, sampai ke gubernur -- sungguh kelihatan tidak berdaya. Isyu keterlibatan mereka sudah berkembang lebih awal, tetapi publik yang terinformasi juga tidak berdaya untuk mencegah peristiwa kemarin terjadi. 

Apakah ini mencerminkan kualitas hubungan kita dengan anak-anak remaja saat ini? Kelihatannya dekat tetapi jauh. Kelihatannya erat terkendali tetapi kenyataannya seperti layang-layang putus? Apakah kita kehilangan modalitas komunikasi karena gadget yang dikuasai anak-anak kita?

Kita bersyukur bahwa tidak banyak jatuh korban. Jika korban berjatuhan, kepada siapa kita harus protes? Diri sendiri? Aparat? Pemerintah? 

Jika korban banyak berjatuhan maka kita semua akan menjadi manusia bodoh dan naif sekaligus karena kita akan diperdaya oleh anasir-anasir berwujud srigala politik ini untuk saling dibenturkan dan saling membunuh. Kemarahan kita akan disulut dengan kebencian untuk merusak tatanan masyarakat dan pemerintah yang telah kita bangun dengan susah payah.

Anak dan remaja adalah titik lemah untuk semua komunitas. Mereka aset masa depan, jika terjadi pengorbannan pada populasi ini, seluruh masyarakat akan marah. Itulah yang dicita-citakan para srigala politik ini. Awasi anak-anakmu. Ajak mereka bicara mengenai politik yang peduli, bukan yang merusak. Kalau perlu dampingi mereka.

Sayang saya bukan cenayang yang dapat menerawang siapa srigala-srigala politik yang memanfaatkan anak-anak dan remaja ini. Bagi saya ini kejahatan yang sangat serius. Menanamkan pemahaman yang slah, kebencian, heroisme semu pada otak anak-anak yang sedang berkembang sama dengan meracuni bayi sendiri. Luar biasa jahatnya. Semoga apaat mampu mengidentifikasi mereka dan memberikan perlakuan setimpal dengan kejahatan mereka yang menjijikkan. 

Bintaro 26 September 2019

Prof. Irwanto