Makalah / Artikel

Tragedi A.S. : Keunggulan Kreativitas atas Kecerdasan

oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Tanggal 11 September 2001, tiba-tiba New York dan Washiington DC jadi neraka. Ratusan, atau mungkin ribuan, orang mati sia-sia setelah tiga pesawat terbang komersial AS ditabrakkan ke dua menara WTC (World Trade Centre) di New York dan Pentagon di Washington DC (sebuah pesawat terbang lagi jatuh di Pensylvania sebelum bisa ditabrakkan ke White House).
Walaupun ada sebagian orang yang senang dengan kejadian itu, namun pada umumnya seluruh dunia, temasuk negara-negara Arab dan Rusia, mengutuknya. Presiden Bush sendiri menyatakan bahwa terorisme ini bukan hanya ditujukan kepada Amerika Serikat, tetapi juga kepada seluruh umat manusia yang cinta kebebasan dan demokrasi. Sedangkan kita sendiri, sebagai manusia Indonesia yang percaya pada Peri Kemanusian, tentunya ikut berduka.
***
Pada saat tulisan ini dibuat, FBI sudah menemukan beberapa bukti yang mulai mengarah kepada identifikasi pelaku terror tersebut. Tetapi masih sangat terlalu awal untuk menuduh seseorang atau suatu golongan tertentu sebagai pelakunya. Namun yang jelas, para pelaku itu pastilah golongan yang sangat membenci bangsa Amerika Serikat. Bukan hanya membenci presiden, tentara atau intelijen Amerika (CIA), tetapi membenci seluruh orang Amerika, termasuk orang-orang sipil, perempuan dan bayi-bayi yang terbunuh dalam tragedi di atas. Pendeknya, para pelaku terror itu adalah musuh bangsa AS.
Musuh bangsa AS ini memang banyak sekali. Demikianlah yang selalu kita dengar dari para pakar dan pengamat politik internasional. Mulai dari Muamar Khadafi dan Saddam Husen sampai Osama bin Laden. Mulai dari sebagian bangsa Arab, sampai ke bangsa Rusia. Tetapi tidak satu pun yang se-adi daya AS dalam segala bidang: ilmu pengetahuan dan teknologi, persenjataan, ekonomi dan keuangan serta politik. Dulu Uni Sovyet merupakan saingan terkuat, sehingga selama puluhan tahun pasca Perang Dunia II, dunia berada dalam kondisi "perang dingin" antara Blok Barat (AS dan kawan-kawan) dan Blok Timur (Rusia dan kawan-kawan). Kedua negara itu sama-sama mampu mengirim orang ke ruang angkasa dan sama-sama punya persenjataan nuklir yang tercanggih. Tetapi setelah kehancuran Uni Sovyet, maka AS merupakan negara terunggul satu-satunya di dunia ini.


Itulah sebabnya banyak orang terperangah dan tidak mengerti, bagaimana mungkin sebuah negara yang se-adi daya AS sampai kecolongan seperti itu. Buat AS sendiri, tragedi ini sangat memalukan, karena itu berarti bahwa seluruh sistem keamanan dan pengamanan negara yang sangat terkenal kecanggihannya itu (dilengkapi dengan pesawat tempur dan kapal-kapal perang modern, sistem radar yang super peka, aparat intelijen yang sangat lihai, sampai sistem pengamanan bandara yang juga luar biasa canggihnya) ternyata dibuat tidak berdaya sama sekali. Di sisi lain, para pelaku terror itu sendiri, hampir-hampir tidak bermodal apa-apa, selain beberapa bilah pisau, keterampilan mempiloti pesawat terbang (yang dipelajari di AS juga), tekad atau ideologi, keberanian, kecerdasan dan €¦ kreativitas.
***
Kreativitas itulah yang ternyata telah menghasilkan operasi terror yang sukses dan hampir sempurna (kecuali sebuah pesawat yang jatuh di Pennsylvania). Kreativitas itulah yang menyebabkan suksesnya unsur dadakan (suatu hal yang sangat penting untuk strategi agresi yang sukses) dan pihak keamanan AS sama sekali tidak bisa mendeteksi persiapan serangan itu yang sangat boleh jadi makan waktu beberapa tahun di bunmi AS sendiri. Kreativitas itulah yang menyebabkan orang AS (termasuk presidennya sampai CIA-nya) sama sekali tidak menduga bahwa serangan tidak datang dari darat (dengan bom bunuh diri), melainkan dari udara. Serangan udara itu pun tidak dengan pesawat-pesawat tempur MIG bikinan Rusia, melainkan menggunakan pesawat komersial milik perusahaan-perusahaan AS sendiri (sehingga tidak tertangkap oleh radar-radar AS yang manapun). Pembajakan pesawat udara juga tidak menggunakan senjata api atau granat, melainkan pisau-pisau kecil yang selama ini memang diijinkan untuk dibawa ke kabin pesawat. Pendeknya, segala yang tidak pernah terpikir oleh otak-otak cerdasnya bangsa AS, itulah yang dilakukan oleh para teroris itu. Itulah yang dinamakan kreativitas.
***
Bangsa AS, walaupun bisa menamakan diri bangsa terpandai di dunia (karena itulah ia bisa mengirimkan orang ke bulan) tetap saja merupakan bangsa yang paling konvensional sedunia (padahal konvensional, atau kebiasaan untuk mengikuti aturan saja, adalah salah satu cirri ketidak-kreativ-an).. Orang Amerika sangat Amerika-sentris. Banyak yang tidak tahu tentang bangsa-bangsa dan negara-negara lain di luar Amerika (dikiranya Indonesia adalah salah satu kota di Bali). Banyak yang mengira bahwa di luar bangsa dan negara Amerika adalah bangsa primitif. Ketika Indonesia dilanda kerusuhan pada bukan Mei 1988 (yang sangat kecil skalanya dibandingkan dengan tragedi AS), seluruh orang AS dihimbau untuk tidak pergi ke Indonesia, karena negara ini dianggap sangat tidak aman. Orang AS juga sangat empiris (ini memang cirri ilmuwan), artinya seluruh pengalaman masa lalu dijadikannya landasan untuk membangun pengetahuan untuk mengantisipasi masa yang akan datang. Konsekuensinya, yang belum pernah terjadi tidak ikut diperhitungkannya sebagai sesuatu yang akan terjadi.
Di sisi lain, para teroris justru memanfaatkan segala sesuatu yang belum pernah terjadi dan dianggap tidak mungkin terjadi. Inilah cirri kreativitas. Memang, salah satu prasayarat dari kreativitas adalah harus berani melanggar konvensi (kesepakatan, aturan, norma) yang ada. Itulah sebabnya pelukis Picasso bisa sangat terkenal (karena ia berani melukiskan mata di paha dan jari tangan berjumlah enam) dan Colombus bisa menemukan benua Amerika (karena ia berani melawan pendapat umum ketika itu bahwa bumi ini datar, bukan bulat). Nah, para teroris ini pun berani melanggar segala konvensi yang ada, termasuk membunuh orang-orang sipil, wanita dan anak-anak yang tidak berdosa (yang oleh orang AS sangat dilindungi haknya dengan HAM), dan tentu saja temasuk membunuhdirinya sendiri.
Semua pelanggaran konvensi itu dapat dilakukan oleh orang-orang yang sangat membenci Amerika. Sudah barang tentu bukan oleh orang yang permohonan visanya pernah ditolak oleh kedutaan Amerika, tetapi oleh orang-orang yang sejak lahirnya mengalami penderitaan sebagai dampak politik luar negeri Amerika dan hidup di lingkungan yang selalu bermusuhan dengan bangsa itu.
Ironisnya, orang Amerika bukannya tidak kreatif sama sekali. Produser-produser film Hollywood sudah banyak membuat film spektakuler tentang pembajakan pesawat terbang dan Towering Inferno, tetapi justru musuh-musuh AS yang memanfaatkan kreativitas produser-produser film itu, sementara orang-orang AS sendiri hanya menganggapnya sebagai khayalan untuk hiburan belaka. Maka mungkin sudah saatnya bangsa AS (dan mungkin juga seluruh umat manusia) mulai memikirkan kemungkinan film-film Jurasic Parc, Indeoendence Day dan Star Wars juga menjadi kenyataan.

Pencarian

Download Center

Hubungi Kami

Jl. Kebayoran Baru No. 85B
Kebayoran Lama, Velbak 
Jakarta 12240

Telp.  :  021 72801625, 085282610736
Fax.  : 021 72801625
Email  : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website  : http://himpsi.or.id