Buku Populer

Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan

Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa Ke-3

Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan

Term of Reference

 

Dasar Pemikiran

 

Perumusan gagasan tentang tema buku ketiga Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk bangsa oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang akan kita garap bersama dalam tahun 2017 ini sangat terbantu oleh dua peristiwa sebagai berikut. Pertama, peluncuran Deklarasi Cerdas Berinternet oleh HIMPSI yang didukung oleh sejumlah mitra kerja termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diwakili oleh Menkominfo sendiri, Drs. Rudiantara, M.B.A.; Universitas Multimedia Nusantara yang diwakili oleh Rektor, Dr. Ninok Leksono; Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal, Erlinda Iswanto, M.Pd.; Kopertis Wilayah III Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang diwakili oleh Sekretaris Pelaksana, Putut Pujogiri, S.H.; Kantor Staf Ahli Presiden yang diwakili oleh Tenaga Ahli Kedeputian IV, Jojo Rahardjo. Peluncuran deklarasi itu sendiri terjadi mengiringi peluncuran buku kedua Seri Sumbangan Psikologi untuk Bangsa berjudul Psikologi dan Teknologi Informasi (2016), yang berlangsung di kampus Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, pada 24 Januari 2017. Bisa dikatakan, peluncuran deklarasi itu merupakan sejenis klimaks atau titik kulminasi dari keprihatinan komunitas psikologi di Tanah Air terhadap gejala menonjolnya dampak negatif penggunaan Internet khususnya media sosial dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari kita sebagaimana dipaparkan oleh berbagai tulisan dalam buku. Kedua, curah pendapat tentang alternatif tema buku ketiga ini di antara sejumlah personel Pengurus Pusat HIMPSI, meliputi antara lain Dr. M.G. Adiyanti, Josephine Ratna, M.Psych., Ph.D., Dr. Andik Matulessy, M.Si., Dr. Ayu Dwi Nindyati, Dra. B.K. Indarwahyanti Graito, M.Psi., Prof. Dr. Yusti Probowati, Dr. Seger Handoyo, dan Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., melalui salah satu grup WhatsApp (WA) Pengurus Pusat HIMPSI yang berlangsung dalam bulan Februari-Maret 2017.

Dua peristiwa di atas terjadi di tengah berlangsungnya pemilihan umum kepala daerah serentak tahun 2017 di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DKI Jakarta. Kita tahu, kontestasi bahkan pertarungan antar pasangan Cagub-Cawagub dalam rangka menarik dukungan suara khususnya dalam Pilgub di DKI Jakarta telah menimbulkan sejumlah fenomena yang berdampak memunculkan ketegangan bahkan keterbelahan antar warga masyarakat yang mengancam rasa damai dan bersatu dalam kebhinekaan kita sebagai bangsa. Rangkaian fenomena itu terpicu dan selanjutnya mengalami eskalasi sampai ke tingkat yang mengkhawatirkan terutama karena penggunaan Internet khususnya media sosial secara tidak bertanggungjawab. Peluncuran Deklarasi Cerdas Berinternet merupakan salah satu bentuk respon HIMPSI terhadap situasi yang memprihatinkan itu sebagaimana secara ringkas terungkap dalam konsiderans dan isi deklarasi tersebut, “... mengingat bahwa penggunaan media sosial menunjukkan gejala memprihatinkan yang bisa berdampak mengancam kebhinekaan dan ketahanan nasional bangsa Indonesia, maka HIMPSI menyatakan antara lain berkomitmen mengembangkan rancangan intervensi pendidikan dalam ranah psikologis untuk meningkatkan kecerdasan berinternet yang dapat diterapkan bagi peserta didik di lingkungan sekolah maupun bagi masyarakat luas di luar institusi sekolah” (Deklarasi, 2017).

Dalam konteks seperti di atas, diskusi curah pendapat tentang alternatif tema buku pun berkisar di antara gagasan-gagasan tentang pentingnya pendidikan berinternet secara cerdas, pendidikan tentang nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan tentang nasionalisme atau rasa kebangsaan, termasuk melalui penerapan smart and quality parenting dalam pendidikan keluarga. Sempat muncul pula gagasan tentang kesehatan, namun secara keseluruhan gagasan mengerucut pada tema ‘pendidikan dalam konteks kebangsaan’ dengan tiga subtema parenting atau pendidikan dalam keluarga, pendidikan cerdas berinternet, dan pendidikan nasionalisme. Lantas bagaimana tema besar tentang pendidikan dalam konteks kebangsaan beserta ketiga subtemanya tersebut bisa kita maknai dan selanjutnya kita kembangan menjadi buah-buah pemikiran berupa tulisan?

Kiranya tepat kalau kita kembali pada gagasan Ki Hadjar Dewantara (1962) tentang pendidikan untuk kita gunakan sebagai sumber inspirasi dan acuan dalam memperbincangkan pendidikan dalam konteks kebangsaan kita kini. Menurutnya, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak, yang beralaskan garis–hidup dari bangsanya, dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (h. 14-15).

Ada setidaknya empat gagasan dasar yang bisa kita petik sebagai cara kita memaknai rumusan Ki Hadjar tentang pendidikan dalam konteks kebangsaan kita di zaman sekarang. Pertama, pendidikan bertujuan membantu pertumbuhan peserta didik sebagai pribadi secara utuh, meliputi dimensi budi pekerti-karakter, intelek, maupun fisiknya. Kedua, pertumbuhan budi pekerti-karakter, intelek, maupun fisik peserta didik tersebut harus berdasarkan filsafat hidup negara-bangsa, bukan lain adalah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, pertumbuhan pribadi utuh peserta didik tersebut bukan semata-mata hanya demi kepentingan diri si peserta didik maupun lingkungan dekatnya seperti keluarga, suku, atau golongannya sendiri melainkan bahkan lebih-lebih demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih bermartabat bagi negara-bangsanya yaitu Indonesia. Akhirnya, keempat, untuk tidak terjebak pada nasionalisme sempit, Ki Hadjar juga menegaskan bahwa kehidupan negara-bangsa bermartabat yang hendak dicapai lewat pertumbuhan pribadi utuh masing-masing pribadi peserta didik tersebut bertujuan agar sebagai negara-bangsa kita mampu bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain menciptakan kehidupan bersama yang juga semakin bermartabat bagi seluruh umat manusia tanpa memandang aneka perbedaan entah berdasarkan gender, ras, suku, agama, dan aneka pembedaan atau penggolongan lain yang bersifat terberi maupun diperoleh atas dasar pilihan pribadi. Konsepsi Ki Hadjar tentang pendidikan bagi anak bangsa tak pelak mengandung visi yang mendalam sekaligus jauh ke depan, mencakup pandangan tentang manusia yang oleh Mangunwijaya (1999) disebut ‘manusia Indonesia dan pasca-Indonesia’ sekaligus. Artinya, pendidikan yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia dan pribadi yang selain mencintai dan memiliki kebanggaan terhadap negara-bangsanya sendiri sekaligus memiliki empati, solidaritas dan kepedulian terhadap kesejahteraan bersama bagi seluruh manusia di muka bumi.

Selanjutnya melalui gagasannya tentang Trisentra atau Tripusat, Ki Hadjar Dewantara hendak menunjukkan kepada kita cara pendidikan yang dicita-citakannya itu bisa dipraktikkan dan diwujudkan. Dengan mengutamakan pengembangan rasa sosial atau rasa kemasyarakatan dalam diri peserta didik, Ki Hadjar menyebut tiga tempat pergaulan sebagai ‘pusat pendidikan’ yang amat penting, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam-pergerakan-pemuda. Bagaimana gagasan tentang Trisentra atau Tripusat itu bisa kita maknai dalam konteks zaman sekarang? Alam keluarga sebagai pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting di zaman kini kiranya masih memiliki makna yang sama sebagaimana dimaksudkan oleh Ki Hadjar pada zamannya. Khususnya melalui rasa cinta dan rasa bersatu antara orang tua dan anak serta saudara dan sanak-saudara, keluarga dipandang berperan sangat  penting terutama dalam pendidikan budi pekerti dan budi kesosialan anak.

Begitu pula sama seperti di zaman Ki Hadjar, alam perguruan atau sekolah di zaman kini tetap merupakan pusat pendidikan yang teristimewa berkewajiban mengusahakan kecerdasan fikiran dan pemberian ilmu pengetahuan serta ketrampilan. Ki Hadjar dengan jelas membedakan pendidikan yang merupakan tugas utama keluarga dan pengajaran yang merupakan tugas utama perguruan atau sekolah. Pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebaliknya, pengajaran sebagai salah satu bagian dari pendidikan bertujuan memberikan ilmu atau pengetahuan dan kecakapan yang kedua-duanya dapat berfaedah bagi kehidupan anak-anak, baik lahir maupun batin (h. 20). Kalau kini orang gencar dan lantang menyuarakan pentingnya pendidikan karakter juga di lingkungan perguruan atau sekolah, maka misi itu haruslah dilaksanakan dengan menggunakan pengajaran yang merupakan tugas utamanya sebagai media atau sarana.

Di zaman Ki Hadjar Dewantara, alam pemuda sebagai sentra atau pusat ketiga pendidikan berupa pergerakan atau organisasi pemuda sebagai bentuk dari apa yang oleh Ki Hadjar disebut ‘pendidikan diri sendiri’. Bagi Ki Hadjar, pergerakan pemuda merupakan ‘daerah merdekanya kaum pemuda’ atau ‘kerajaan pemuda’ yang sangat penting untuk mengembangkan kemampuan melakukan penguasaan diri dalam rangka pembentukan watak (h. 72). Bentuk-bentuk pergerakan atau aktivitas pemuda sebagaimana menjamur di zaman Ki Hadjar tentu masih ada pula di zaman sekarang, namun tak bisa disangkal bahwa ‘kerajaan pemuda’ tempat peserta didik memperoleh dan mengalami ‘pendidikan diri sendiri’ yang sangat dominan di zaman kita sekarang tentu saja adalah Internet khususnya dan dunia teknologi komunikasi dan informasi pada umumnya.

Ditempatkan dalam konteks kebangsaan dan dengan mengutamakan pembentukan budi pekerti-karakter, intelek, dan budi sosial, pendidikan yang terlaksana melalui Tri-Sentra sebagaimana dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara dan yang ingin kita jadikan sumber inspirasi dalam memperbincangkan pendidikan kiranya memiliki kesamaan makna dengan public pedagogy atau pendidikan publik sebagaimana digagas oleh para pegiat pendidikan kritis (Giroux, 2004). Salah satu pengandaian dasar pendidikan publik menyatakan bahwa perkara-perkara privat terkait kehidupan masing-masing individu peserta didik tidak pernah bisa dilepaskan dari aneka kondisi kemasyarakatan dan daya-daya kolektif masyarakat yang lebih besar. Artinya, aneka proses belajar dan pembelajaran yang berlangsung dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas pada dasarnya merupakan mekanisme politis melalui mana identitas dan berbagai hasrat-kebutuhan peserta didik sebagai pribadi sekaligus warga masyarakat-negara dibentuk dan dimobilisasikan. Dengan kata lain, dalam konteks kebangsaan pendidikan tidak lagi hanya terbatas pada apa yang berlangsung dalam sekolah atau perguruan sebagai institusi formal pendidikan melainkan sudah menjelma menjadi prinsip dasar berfungsinya berbagai aparatus budaya meliputi aneka pranata sosial dalam masyarakat dalam rangka melaksanakan apa yang oleh seorang pemikir budaya Raymond Williams disebut “permanent education” atau pendidikan tanpa akhir bagi seluruh warga menuju terciptanya kehidupan bersama yang semakin demokratis, berkeadilan, dan bermartabat. Psikologi baik sebagai ilmu maupun praksis jelas memiliki peran unik dan diharapkan mampu memberikan sumbangan yang kaya dalam rangka mengawal terlaksananya ‘pendidikan permanen’ bagi warga masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan yang digeluti. Untuk itulah pada kesempatan ini HIMPSI mengundang segenap ilmuwan dan praktisi Psikologi di seluruh Tanah Air untuk menyumbangkan hasil penelitian, hasil pemikiran, maupun refleksi atas hasil praktik profesionalnya baik sebagai ilmuwan maupun sebagai praktisi dalam bentuk artikel ilmiah populer terkait tema besar pendidikan dengan tiga subtema parenting atau pendidikan dalam keluarga, pendidikan cerdas berinternet, dan pendidikan nasionalisme.

 

Tujuan

 

Berdasarkan pemikiran di atas, Himpunan Psikologi Indonesia bermaksud mengundang sahabat-sahabat Psikologiwan-psikologiwati meliputi ilmuwan, akademisi, dan praktisi Psikologi di seluruh Tanah Air untuk menyumbangkan artikel ilmiah populer berisi hasil penelitian, hasil pemikiran, opini, refleksi pengalaman profesional maupun pribadi terkait tema besar: pendidikan dalam konteks kebangsaan, dengan tiga subtema: (1) parenting atau pendidikan dalam keluarga; (2) pendidikan cerdas berinternet; dan (3) pendidikan nasionalisme, atau subtema lain yang masih terkait dengan tema besar.

Beberapa ketentuan tentang artikel ilmiah populer yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Ditulis dalam bahasa Indonesia.
  2. Panjang maksimal 25-30 halaman termasuk Daftar Acuan (jika ada).
  3. Diketik pada ukuran kuarto (A4) dengan spasi 1,5 Times New Roman.
  4. Dilengkapi abstrak berbahasa Inggris sepanjang maksimal 250 kata.
  5. Sebagai penutup atau bagian dari penutup dilengkapi dengan saran berupa saran praktis dan/atau saran kebijakan.
  6. Berupa tulisan baru, belum pernah dipublikasikan.
  7. Dilampiri riwayat hidup singkat meliputi yang utama riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dan daftar publikasi pilihan untuk menunjukkan kredibilitas dari gagasan yang disajikan dalam tulisan, serta alamat (alamat pos dan alamat surel) untuk keperluan korespondensi.
  8. Dikirimkan ke Tim Editor dalam bentuk naskah elektronik melalui alamat surel: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Artikel yang masuk akan direview oleh Tim Editor dan PP HIMPSI, hasilnya akan  disunting oleh Tim Editor dalam sebuah buku referensi berjudul „Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan“. Buku ini akan merupakan buku ketiga Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa yang diterbitkan oleh Himpunan Psikologi Indonesia, yang direncanakan terbit dalam tahun 2017 ini.

 

Pembaca Sasaran

 

Buku „Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan“ ini diharapkan bermanfaat bagi kalangan pembaca sebagai berikut:

  1. Pejabat dalam institusi pemerintah maupun swasta yang bergerak secara langsung maupun tidak langsung dalam layanan pendidikan baik fomal maupun nonformal.
  2. Pemuka agama, pegiat partai politik, pegiat organisasi kemasyarakatan.
  3. Profesional yang bergerak dalam layanan pendidikan informal di berbagai sektor kehidupan termasuk media massa.
  4. Dosen, guru, dan orang tua.
  5. Pegiat organisasi kemahasiswaan dan mahasiswa pada umumnya.
  6. Masyarakat luas yang memiliki kepedulian pada perkara pendidikan dan kebangsaan.

 

 

 

Jadwal

 

Tanggal

Kegiatan

Penanggungjawab

31 Juli 2017

Diseminasi undangan untuk mengirimkan artikel oleh PP HIMPSI kepada para calon penulis.

PP HIMPSI

20 Oktober 2017

Batas akhir pengiriman artikel final oleh penulis kepada Tim Editor.*

Penulis

27 Oktober 2017

Penguman hasil review oleh Tim Editor dan PP HIMPSI kepada penulis.

Tim Editor

28 Oktober s.d. 25 November 2017

Proses penyuntingan; pengerjaan sampul; permintaan sambutan Ketua Umum HIMPSI; permintaan dukungan (endorsement) pihak terkait (jika ada).

Tim Editor

27 November 2017

Draft buku siap cetak, jadi.

Tim Editor

22 Desember 2017

Buku “Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan” siap diluncurkan.

Percetakan/Tim Editor

 

*Pengiriman komitmen dan artikel oleh (calon) penulis serta komunikasi antara penulis dan Tim Editor melalui alamat surel: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. .

 

 

Daftar Acuan

 

Deklasari cerdas berinternet. (2017). Tangerang: Himpunan Psikologi Indonesia.

Dewantara, Ki Hadjar. (1962). Karja Ki Hadjar Dewantara. Bagian pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Madjelis Luhur Taman Siswa.

Giroux, H.A. (2004). Cultural studies, public pedagogy, and the responsibility of intellectuals. Communication and Critical/Cultural Studies, 1(1), 59-79.

Mangunwijaya, Y.B. (1999). Pasca-Indonesia pasca-Einstein. Esei-esei tentang kebudayaan Indonesia abad ke-21. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumbangan Pemikiran Psikologi Untuk Bangsa: Psikologi dan Teknologi

Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa Ke-2 “Psikologi dan Teknologi Informasi”

I. Latar Belakang
Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) semakin meluas dan tidaklah mungkin dibendung. Banyak manfaat telah dirasakan, namun tidak jarang kehadirannya justru memunculkan persoalan. Kedua sisi ini berkelindan masuk ke segala sendi kehidupan, dari ranah publik hingga privat. Sebagai pribadi, keluarga, masyarakat bahkan negara terkadang gagap bahkan tidak jarang gagal menanggapi perubahan yang terjadi karenanya. Bidang ilmu Psikologi, sebagai sebuah praktek dan kajian memiliki panggilan menanggapi situasi tersebut.
TIK dapat dipahami sebagai “semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi” (Kemristek, 2006, hal.8). Pengertian luas ini melibatkan beragam teknologi seperti radio, televisi, video, DVD, telepon (sambungan telepon tidak bergerak dan telepon selular), sistem satelit, komputer, jaringan keras, perangkat lunak, termasuk segala perangkat dan layanan komunikasi yang berhubungan dengan teknologi ini, seperti konferensi video, surat elektronik dan blog (UNESCO, 2007). Luasnya pengertian dan medium yang digunakan memperlihatkan hampir tidak ada sisi kehidupan masyarakat saat ini dapat terlepas dari TIK.
Pengguna Internet di seluruh dunia misalnya, kini mencapai 3 milyar (40% populasi dunia) dan dua per tiganya berasal dari negara-negara berkembang (ITU, 2014). Data lain memperlihatkan pelanggan telepon seluler dunia telah mencapai 7 milyar dan lebih dari setengahnya adalah pelanggan di wilayah Asia-Pasifik (ITU, 2014). Kondisi ini merefleksikan kondisi di Indonesia. Pada tahun 2012 penetrasi pengguna internet Indonesia sebanyak 24,23%, jumlah ini meningkat menjadi 34.9% di tahun 2014 (APJII, 2014). Sebanyak 85% dari pengguna internet tersebut mengakses melalui telepon selular (APJII, 2014). Hanya saja profil angka-angka tersebut menyisakan beberapa persoalan dalam hal pemerataan akses, biaya layanan, dan kualitas konektivitas. Riset APJII (2014) menunjukkan tidak meratanya pengguna internet, wilayah Indonesia bagian Barat merupakan pengguna internet terbesar (78,5%). Terkait biaya, data Bappenas (2014) menyebutkan tingginya biaya penyediaan layanan internet per bulan, bila dibandingkan rata-rata pengeluaran rumah tangga per bulan masyarakat Indonesia. Kecepatan unduh (download) di Indonesia juga termasuk rendah, bila dibandingkan negara-negara Asia lain (Bappenas, 2014).
Menanggapi situasi itu, pemerintah melaksanakan beberapa upaya, salah satunya melalui Rencana Pitalebar Indonesia (RPI) 2014-2019 yang tertuang melalui Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2014. RPI “…didefinisikan sebagai akses internet dengan jaminan konektivitas selalu tersambung, terjamin ketahanan dan keamanan informasinya serta memiliki kemampuan triple-play dengan kecepatan minimal 2 Mbps untuk akses tetap (fixed) dan 1 Mbps untuk akses bergerak (mobile) “(Bappenas, 2014, hal. 6). Terlepas dari definisi yang mungkin terlalu teknis dipahami bagi komunitas psikologi, pokok semangatnya adalah menyediakan jaringan koneksi internet di seluruh Indonesia secara handal dan aman. Dengan demikian diharapkan akan, “..mendukung pertumbuhan pembangunan nasional dan daya saing Indonesia di tingkat global, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia” (Bappenas, 2014, hal. 6).
Upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah berita gembira, sebab dengan demikian kita nantinya semakin memiliki kesempatan untuk mengetahui dan terlibat di beragam manfaat TIK untuk kemajuan kualitas hidup manusia. Kita semakin cepat mengetahui peristiwa-peristiwa terkini dunia. Kita semakin memiliki banyak sumber informasi atas segala keingintahuan. Informasi yang mutahir dan mudah diakses akan banyak bermanfaat untuk tujuan-tujuan peningkatan kesejahteraan manusia, seperti peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, keamanan dan sebagainya. Kitapun semakin memiliki beragam medium komunikasi untuk terhubung dengan orang lain, dimanapun dan kapanpun. Kita juga semakin dapat terlibat dalam beragam isu dan minat yang memungkinkan segala ekspresi maupun kepentingan tersampaikan. Ini adalah dunia baru yang semakin mengintegrasikan dunia nyata dan dunia maya.
Dunia baru tersebut adalah pengalaman baru bagi sebagian pribadi dan masyarakat. Pengalaman baru ini berdampak positif bagi sekelompok orang yang dapat memanfaatkan kehadiran TIK untuk kesejahteraan diri atau masyarakatnya. Melalui TIK misalnya, seseorang dapat menjual hasil produksinya kemanapun, menemukan anak yang hilang, mempertemukan sanak saudara yang selama ini putus hubungan, melakukan konseling, menggalang dan meminta bantuan, membentuk komunitas, memperbaiki kualitas proses belajar mengajar, menyebarkan pertanyaan riset secara lebih luas, hingga melakukan tekanan politik bagi pemerintah.
Hasil positif TIK sebagaimana digambarkan di atas baru realita satu sisi. Di sisi lain, TIK memberikan pengalaman baru disertai perubahan serta ekses yang menyertainya. Peristiwa-peristiwa ini tidak pernah terjadi di era-era sebelumnya. Seringkali masyarakat belum siap untuk menerima sejumlah ekses negatif dunia baru ini. Misalnya peristiwa, seorang anak sekolah mengalami kekerasan seksual oleh seseorang yang dikenalnya di jejaring sosial, seorang anak menjadi stres karena dirinya dirusak di media sosial, adanya penipuan secara daring, adanya prostitusi daring, relasi perkawinan menjadi retak karena perkenalan salah satu pihak melalui situs jejaring sosial, bahkan relasi antar negara menjadi terganggu karena adanya informasi rahasia yang telah dibocorkan melalui suatu situs. Realitas kelam ini adalah satu sisi persoalan aktual yang menyebabkan ruang-ruang konseling, seminar-seminar dan kajian-kajian psikologi dipenuhi narasi tentang dampak TIK bagi masyarakat. Mereka datang mengadu, bertanya dan berkeluh-kesah karena penggunaan TIK yang telah mengganggu, bahkan merusak diri atau relasinya dengan orang lain.
Dari sini dapat dikatakan, TIK pada dasarnya tetaplah sebuah teknologi. Ia hadir sebagai alat bantu untuk memenuhi beragam kebutuhan manusia. Teknologi tidak pernah netral karena didasari oleh pengetahuan yang memiliki nilai-nilai tertentu (Flanagan, Howe & Nissenbaum, 2008). Relasi antara manusia dan teknologi juga dimediasi oleh beragam aspek yang menyertainya, seperti: sejarah, budaya, komunitas, pembagian tugas, dan peran (lih. Rückriem, 2009). Dengan kata lain, relasi antara manusia dan TIK tidak memadai lagi bila dipandang sebagai relasi yang impersonal dan eksklusif. Para pengguna adalah pribadi-pribadi yang saat memanfaatkan TIK melibatkan persepsi, ingatan-ingatan, kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, sikap, motif, motivasi, kepribadian, pengetahuan, emosi, keterampilan dan pemaknaan-pemaknaan yang bersifat personal dan sosial. Atribut-atribut psikologis itu kemudian dibingkai dalam kontradiksi-kontradiksi eksistensial psikologis manusia, antara: kita-kami (Hassan, 2014); kehidupan-kematian, kebebasan-ketidakbebasan, isolasi-keterhubungan dan keberartian-ketidakberartian (Yalom, 1980). TIK kemudian menjadi medan interaksi dinamis antara atribut-atribut dan kontradiksi-kontradiksi eksistensial psikologis tersebut. Terkadang menyebabkan potensi-potensi keunggulan diri serta masyarakat menjadi tumpul dan mandeg, namun sebaliknya mampu juga menstimulasi munculnya potensi-potensi yang ada. Pada tarikan-tarikan inilah psikologi--sebagai praktek psikologis dan kajian keilmuan--berperan memberikan sumbangsih keterampilan dan pemikiran agar atribut-atribut serta kontradiksi-kontradiksi tersebut diselaraskan, sehingga TIK dapat dijadikan medium pengembangan diri serta masyarakat.
Saat ini Indonesia berada di periode bonus demografi, yaitu ketika jumlah penduduk usia produktif (15-65 tahun) lebih banyak daripada penduduk non produktif (lih. BPS, 2013). Jumlahnya diproyeksikan meningkat dari 66,5 % pada tahun 2010, menjadi 68,1% pada tahun 2028 sampai 2031 (lih. BPS, 2013). Pada konteks TIK, pengguna internet di Indonesia saat ini hampir setengahnya (49%) berasal dari kelompok usia muda, yaitu 18-25 tahun (APJII, 2014). Sebanyak 60% pengguna internet dari kategori usia tersebut mengakses internet dari telepon selular (APJII, 2014). Data-data ini memperlihatkan bahwa kini dan nanti masyarakat Indonesia dapat dengan mudah menjadi subyek dan objek pemanfaatan TIK, baik secara positif atau negatif. Bila kita sepakat bahwa momentum bonus demografi harus disiapkan dan dimanfaatkan demi kemajuan Indonesia, maka isu peran psikologi dalam pemanfaatan TIK di masyarakat adalah keniscayaan bagi komunitas psikologi di Indonesia. Untuk selanjutnya memahami, merawat dan mengawal para penerus bangsa ini memanfaatkan TIK sesuai penghayatan pengalamannya yang khas dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Sebagai bidang ilmu dan terapan yang bersentuhan erat dengan manusia, Psikologi sangat dapat berkontribusi untuk membantu pemanfaatan optimal TIK bagi kesejahteraan kualitas hidup masyarakat dan individu. Kajian dan praktik Psikologi yang dilakukan para psikolog maupuan ilmuwan psikologi selama ini telah membuahkan konsep, ide, gagasan, maupun pengalaman berharga tentang bagaimana relasi TIK dalam perilaku manusia di beragam konteks. Gagasan, insight dan praktik cerdas (best practices) dari karya nyata ini tentunya dapat dikembangkan menjadi upaya edukasi, promotif dan kuratif untuk penggunaan TIK di masyarakat.

II. Tujuan
Berdasarkan pemikiran di atas, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) merencanakan menerbitkan buku berjudul “Psikologi dan Teknologi Informasi”. Buku ini adalah terbitan ke-2 dari Seri Pemikiran Psikologi untuk Bangsa, sebuah buku tematik yang berisi kontribusi gagasan bidang Psikologi untuk tema-tema yang relevan bagi kemajuan bangsa dan diterbitkan setiap tahun. Penerbitan sebelumnya, Seri Pemikiran Psikologi untuk Bangsa 1 terbit di tahun 2015, bertajuk “Revolusi Mental: Makna dan Realisasi”. Penerbitan buku kali ini bertujuan untuk menyumbangkan ide, gagasan, opini, pengalaman, dan karya layanan psikologis terkait peran psikologi dalam TIK. Isi buku terkait erat dgn persoalan nyata yg dialami individu, keluarga, masyarakat atau bangsa yg disebabkan perkembangan teknologi informasi, serta memberikan sumbangan pemikiran untuk solusinya.

Referensi
APJII. (2014). Profil Pengguna Internet Indonesia 2014. Jakarta: Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia
Bappenas. (2014). Rencana Pitalebar Indonesia 2014 – 2019. Jakarta: Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas)
BPS. (2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Jakarta: Biro Pusat Statistik (BPS)
Flanagan, M., Howe, D.C & Nissenbaum, H. (2008). Embodying Values in Technology: Theory and Practice dalam Jeroen van den Hoven & John Weckert (Ed), Information Technology and Moral Philosophy (hal. 322-353), NY: Cambridge University Press
Hassan, F. (2014). Psikologi-Kita & Eksistensialime. Depok: Komunitas Bambu
ITU. (2014). The World in 2014 - ICT Facts and Figures. Diambil 18 Oktober, 2015, dari http://www.itu.int/…/Docume…/facts/ICTFactsFigures2014-e.pdf
Kemristek. (2006). Indonesia 2005-2025 Buku Putih: Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2005-2025. Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)
Rückriem, G. (2009). Digital Technology and Mediation: A Challenge to Activity Theory. Dalam A. Sannino, H. Daniels, & K. D. Gutiérrez (Ed), Learning and expanding with activity theory (hal. 88–111). Cambridge University Press.
Yalom, I. D. (1980). Existential Psychotheraphy. NY: Basic Book

 

 

 

 

Pencarian

Download Center

Hubungi Kami

Jl. Kebayoran Baru No. 85B
Kebayoran Lama, Velbak 
Jakarta 12240

Telp.  :  021 72801625, 085282610736
Fax.  : 021 72801625
Email  : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Website  : http://himpsi.or.id